Ilustrasi berdo'a. Foto: PortalMadura.com

IDNEWS.CO.ID – Gema takbir syawal mengalun dengan semarak, bergema dari berbagai pelosok. Dari masjid, mushola, berjalan-jalan, televisi sampai rumah-rumah penduduk sama sama bersahutan. Selama malam semua suka meninggikan asma Allah. Larut dengan rasa sukur akan kemenangan hari raya Idul Fitri.

Tapi, di pojok hati terdalam ada rasa susah yang sangat sangatlah. Rasa kehilangan akan momen-momen yang cuma dapat dijumpai saat Ramadhan. Rasa kehilangan akan atmosfer Ramadhan yang sukar dijumpai di bulan-bulan lain. Serta buat seorang muslim, berlalunya Ramadhan bermakna berlalu pula demikian banyak karunia dan peluang ampunan yang terbentang selama bulan itu.

Hakikatnya Ramadhan tidak kemana saja. Bilangan hari di bulan Ramadhan benar sudah genap 30 hari dan bilangan bulan sudah bertukar. Ramadhan berlalu, saat ini bertukar dengan bulan Syawal yang berarti penambahan. Tapi, semangat Ramadhannya sendiri tidak sempat kemana saja. Ramadhan akan ada di hati mereka yang selalu mengupdate iman dan selalu beramal sholeh. Pada merekalah Ramadhan ada. Hati mereka dipenuhinya oleh semangat Ramadhan dan gerak langkah mereka pancarkan aura Ramadhan. Pada merekalah spirit Ramadhan tetap membekas.

Tiga puluh hari ditempa dengan beragam aktivitas beribadah dan amal sholeh, siang dan malam. Lalu, saat Ramadhan berlalu, bagaimana dengan semangat ibadan dan amal sholeh kita? Apa ada dia masih membekas? Atau mungkin spirit Ramadhan itu turut berlalu bersama bilangan bulan?

Tanda keberhasilan Ramadhan merupakan saat kultur Ramadhan itu membekas dalam kehidupan sehari-hari kita di luar Ramadhan. Apakah saja kultur yang terwujud selama Ramadhan? Satu diantaranya merupakan kultur kebaikan dan amal sholeh yang nampak fakta. Beribadah badan dan beribadah harta menghiasi hari-hari kita selama Ramadhan. Siang hari yang dilalui dengan puasa, tilawah, sedekah, dan amal kebaikan yang lain dengan enteng. Malam hari juga dihiasi dengan sholat malam yang dilakukan dengan penuh keceriaan dan kebersamaan di rumah-rumah beribadah. Nah, saat ramadhan berlalu apa ada kultur itu masih menghiasi hari-hari kita?

Apabila masih, selamat! Bermakna kita termasuk beberapa orang yang tetap menaruh Ramadhan di hati. Sebab hakikatnya bukan Ramadhan yang pergi, tetapi kitalah yang berpaling dari kultur Ramadhan. Hingga, spirit Ramadhan tidak membekas pada diri.

Nah, biar spirit Ramadan tetap membekas berikut berbagai hal yang butuh dipertahankan dalam keseharian kita:

1. Memperbanyak istigfar

Beristighfar merupakan bentuk pernyataan manusia sebagai mahluk yang tidak sempat terlepas dari dosa. Tiap hari terbuka lebar peluang melakukan hal salah yang akan menggelincirkan kita pada genangan dosa. Rasul Saw mengajari kita untuk perbanyak istighfar dalam semua waktu dan peluang. Istighfar yang dilakukan dengan sepenuh kesadaran berubah menjadi satu diantaranya asbab Allah yang Maha pengampun memaafkan semua dosa dan kekeliruan yang kita kerjakan. Lebarnya peluang dosa didepan kita, tambah lebih lebar peluang ampunan yang Allah hamparkan untuk hamba-hamba-Nya. So, jangan berputus harapan dari karunia dan ampunan Allah.
Perbanyaklah istighfar dimana juga dan kapan juga kita ada. Jadi bentuk pernyataan atas dosa dan pengharapan kita akan ampunan Allah Swt.

2. Melanggengkan puasa sunnah

Berpuasa merupakan kultur khas yang kita bangun selama Ramadhan. Satu bulan penuh kita melatih diri untuk menguasai nafsu keinginan dengan penuh keimanan. Adat itu semestinya tidak berlalu demikian saja dengan berakhirnya Ramadhan. Alangkah lebih baiknya jika kebiasaan baik itu selalu dillanggengkan dengan jalankan puasa sunnah di bulan-bulan yang lain.

3. Meneruskan tilawah harian

Saat Ramadhan kita demikian bergairah tilawah Al quran. Ada kebiasaan tadarus di rumah-rumah beribadah berubah menjadi penyemangat kita untuk tilawah Al quran. Juga ada komunitas one day one juz yang sama sama menyemangati untuk merampungkan khataman Al quran minimum satu juz /hari. Nah, kebiasaan tilawah harian ini jangan hingga ketinggal di bulan Ramadha saja. Kebiasaan ini harus dilanjut di bulan-bulan yang lain, baik secara mandiri atau bersama.

4. Merutinkan infak dan sedekah harian

Ramadhan merupakan bulan dimana ummat islam berubah menjadi demikian Ramadhan. Peluang share terbuka dimana saja. Tiap hari kita dimotivasi untuk berikan makan orang yang buka. Adat ini juga semestinya kita rutinkan di hari-hari lain di luar ramadhan. Buatlah sedekah dan infak harian berubah menjadi satu diantaranya sunnah rasul yang isi hari-hari kita. Yuk dengan terlebih dulu diawali membiasakan sedekah subuh. Insha Allah pada postingan lain ane akan share tentangan keutamaan dan tata cara sedekah subuh.

5. Melanggengkan sholat malam

Satu diantaranya keindahan malam-malam Ramadhan merupakan saat menyaksikan malam-malamnya yang selalu dihidupkan dengan beribadah. Shalat tarawih yang dilakukan berjamaah di rumah beribadah membuat nuansa ketaatan itu demikian dirasakan Di luar Ramadhan tentu saja kebiasaan itu sukar ditemukan, tapi bukan bermakna tidak dapat diciptakan. Kita dapat mengawasi kultur beribadah malam itu dengan melanggengkannya dalam keseharian masing-masing. Dimulai dari diri dan keluarga masing-masing. Buatlah malam-malam kita indah dengan nuansa beribadah dan ketaatan yang kental. Biar spirit Ramadhan tetap menghiasi hari-hari kita. (ria)

LEAVE A REPLY