IDNews.co.id – Kasus pemberian surat peringatan (SP) 3 kepada Mulyono selaku pegawai PT Transjakarta terus menuai perhatian sejumlah kalangan. Seperti diketahui, Mulyono tengah melaksanakan shalat sehingga tidak menjawab panggilan dari Direktur Utama PT Transjakarta Budi Kaliwono.

Kini, giliran Aktivis Betawi Muhidin Muchtar yang mengungkapkan kegeramannya atas kasus tersebut. “Ganti itu Budi Kaliwono (dirut PT TRansjakarta). Daripada nanti berujung keresahan ummat yang lebih meluas. Apalagi dikaitkan isu sara,” ujar dia kepada IDNews, Minggu (23/).

Muhidin Muchtar, Aktivis Betawi.

Menurut dia, suasana dan suhu politik belakangan ini telah mereda, terutama pasca Pilgub DKI 2017. Karena itu, diharapkan tidak ada pihak yang membuat suasana memanas kembali. “Suasana sudah kondusif. Jangan coba-coba bikin keruh,” sergah Muhidin.

Untuk itu, Muhidin memdesak Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat segera memberhentikan Budi Kaliwono dari jabatan dirut PT Transjakarta. “Ini kasus lebih berat dari kasus Ahok karena membuat keresahan untuk karyawan Transjakarta dan umat Islam pada umumnya,” tandas dia.

Muhidin berpendapat, Budi Kaliwono sedang mempertontonkan kesombongannya ketika memberikan SP3 kepada pegawai yang melaksanakan shalat sehingga tak bisa memenuhi panggilannya.

“Seolah-olah bahwa perintah Budi lebih tinggi dari perintah Allah. Sehingga pegawai yang melanggar perintah Budi akan dipecat. Ini Firaun kecil dan bahaya bila didiamkan. Lagi-lagi, ini dilakukan oleh etnis china,” sergah Muhidin.

Apabila Gubernur Djarot tidak berani mencopot Budi Kaliwono, sambung Muhidin, dirinya akan menggalang para pemuda dan aktivis Betawi untuk menuntut pengunduran diri Budi Kaliwono. “Kita akan demo itu kantor Transjakarta dan kantor gubernur. Gak ada yang lebih tinggi dari pada perintah Allah, perintah manusia di bawah perintah Allah,” pungkas mantan Relawan Borobudur 2 untuk Pemenangan Anies-Sandi di Pilgub DKI 2017 itu. (hat)

LEAVE A REPLY