Kelompok militan ISIS dengan tahanan berbaju biru.

IDNEWS.CO.ID –¬†Pemimpin ISIS, Abu Bakr al- Baghdadi tewas dalam serangan militer oleh pasukan khusus Amerika Serikat pada Oktober 2019. Terpojok oleh pasukan AS, ia lalu meledakkan diri bersama dua istri dan dua anaknya. Baghdadi dan keluarganya tewas di rumah persembunyian di Idlib, Suriah.

Selepas kematian al-Baghdadi, dua lembaga intelijen melaporkan Amir Mohammed Abdul Rahman al-Mawli al-Salbi sebagai pemimpin ISIS yang baru. Al Salbi yang punya nama panggilan ‘profesor’ diyakini sebagai salah satu pendiri ISIS.

Ia tidak kalah kejam dan brutal dari pemimpin ISIS yang terdahulu. Salbi yang menginisiasi penyiksaan terhadap wanita Yazidi. Banyak dari mereka yang diperkosa, dibunuh atau dijual sebagai budak seks.

Salbi merupakan keturunan Turki yang lahir di kota Tal Afar, Irak. Dia adalah salah satu dari sedikit pemimpin ISIS yang bukan berdarah Arab. Salbi diyakini punya lebih dari satu anak laki-laki.

Dia merupakan sarjana hukum Islam dari Universitas Mosul. Gelarnya sebagai sarjana Islam membuatnya menambah deretan teror ISIS. Dia juga berupaya membenarkan pembunuhan besar-besaran terhadap kaum Yazidi. Sebagai ketua legislator, dia menjatuhkan sanksi kepada kaum homoseksual dengan melempar mereka dari atas atap serta hukum rajam bagi wanita yang dituduh berselingkuh. Salbi juga dikenal dengan nama ‘The Destroyer’

Awal pertemuan Salbi dan Baghdadi bermula pada tahun 2004. Saat itu, mereka ditahan oleh pasukan AS di kamp Bucca, Irak Selatan. Kemudian dia mengambil alih operasi ISIS dari bulan Juli 2019 setelah kesehatan Baghdadi semakin menurun. Salbi dilaporkan bertanggung jawab atas serangkaian serangan ISIS di seluruh dunia. Dia juga merupakan mantan tentara diktator Irak, Saddam Hussein. Salbi lalu dikukuhkan sebagai pemimpin baru ISIS beberapa jam setelah kematian Baghdadi.

ISIS kalah tapi belum menyerah

Sebelum mendaratkan serangan yang menewaskan Baghdadi, Departemen Luar Negeri AS menawarkan imbalan US$ 5 juta atas Salbi serta dia orang pemimpin ISIS lainnya, dikutip dari Daily Mail.

Serangan itu merupakan pukulan telak bagi ISIS yang sudah kehilangan daerah kekuasaan di Suriah dan Irak. Selain itu, mereka juga mengalami serangkaian kekalahan dari pasukan koalisi AS, Suriah dan Irak.

Banyak anggota ISIS yang melarikan diri ke Utara-Barat Suriah setelah daerah mereka digempur habis-habisan. Sedangkan yang lain kabur ke gurun di Suriah dan Irak. Dalam melakukan pencarian terhadap Salbi, intelijen mengarah ke Turki. Negara di mana saudara Salbi, Adel bekerja di salah satu partai politik. Keduanya diketahui melakukan kontak hingga bulan Oktober.

Hingga kini belum diketahui lokasi keberadaan Salbi, tapi diduga dia bersembunyi di salah satu kota di Mosul Barat. Meski ISIS sudah digulingkan dari markas terakhir mereka di Suriah pada Maret 2019, pemerintah Kurdi telah memperingatkan bahwa mereka akan menyerang kembali.

Salah satu pejabat Kurdi memberikan keterangan pada The Guardian, “Kami melihat kenaikan jumlah serangan yang signifikan sejak pertengahan tahun lalu. Di mana grafiknya bergerak ke arah utara.” Mereka sedang menyelidiki 60 serangan dalam sebulan lewat pembunuhan, bom di jalan serta serangan terhadap pasukan Irak.

Diyakini jaringan ISIS di daerah terpencil masih kuat. Terlebih anggota ISIS di Irak masih menerima upah bulanan dan latihan di gunung terpencil. Jaringan tersebut membuat ISIS masih bertahan meski kekuatan militer mereka sudah dikalahkan. (ndi)

LEAVE A REPLY