Ilustrasi penjara. Foto: Republika

IDNEWS.CO.ID – Aparat Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri tangkap seorang narapidana di Surabaya bernama TR (25) pada Selasa (9/7/2019). TR ditangkap lantaran melakukan tindakan cabul pada beberapa puluh anak dibawah usia melalui sosial media dengan menggunakan akun palsu.

Wakil Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Komisaris Besar Polisi Asep Safruddin mengatakan, tindakan tersangka melakukan pencabulan dilakukan selama dirinya di Instansi Pemasyarakatan (Lapas). Didapati tersangka sedang menekuni saat penahanan atas tindakan pencabulan anak dibawah usia.

“Tersangka diputus hukuman 7,5 tahun dan baru menekuni saat penahanan selama 2 tahun,” kata Asep di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (22/7/2019).

Dalam aksinya, tersangka awalnya cari informasi calon korban lewat kata kunci ‘SD’, ‘SMP’ dan ‘SMA’. Lantas, tersangka cari akun seorang guru yang akan jadikan korban pemalsuan.

“Tersangka membuat akun palsu dengan nama seakan-akan guru itu. Soal ini untuk memperdayai korban,” tuturnya.

Setelah itu, tersangka langsung melakukan pembicaraan dengan korban. Dalam pembicaraan itu, tersangka meminta korban berkirim foto dan video telanjang korban. Apabila tidak dipenuhi, tersangka meneror korban dengan nilai tidak baik atau tidak naik kelas.

Setelah itu, tersangka meminta foto dan video telanjang korban melalui sosial media WhatsApp. Tersangka semula mengelit telah melakukan kejahatannya pada anak-anak korban. Tapi, setelah penyidik sukses menemukan tanda untuk bukti hasil pengecekan digital forensic berbentuk ribuan foto dan video para korban yang tersimpan di handphone dan sejumlah emailnya, akhirnya tersangka mengakui pada penyidik Subdit 1 Direktorat Tindak Pidana Siber jika korbannya hampir 50 orang anak.

“Korbannya saat ini hampir 50 orang dan foto dan video yang sudah ada sejumlah 1.300 lebih. Kami yakini korban masih banyak,” tukasnya.

Dari wajah dan postur anak dan pernyataan tersangka saat berteman, diketahui rata-rata masih duduk di kursi kelas 5 SD sampai dengan kelas 3 SMA yang usianya sekitar 11-17 tahun yang semua belum diketahui jati diri dan alamatnya.

Karena itu, penyidik sedang berusaha keras melakukan identifikasi manfaat menemukan keberadaan korban untuk dilakukan rehabilitas secara medis.

Dari pernyataan tersangka, motivasi tersangka melakukan hal tersebut dipacu dorongan penuhi nafsu untuk kenikmatan pribadi dengan cuma memandangi foto video porno anak itu, efek narkoba, pikiran kosong dan adanya latar belakang jelek yakni seringkali tidak diterima wanita sampai-sampai berguru pengetahuan pengasihan dan pesugihan di sebagian kota.

Dari tangan tersangka, polisi mengambil satu unit handphone dan sejumlah e-mail dan akun di sosial media punya tersangka.

Atas tindakan itu, tersangka dijaring dengan Clausal 82 Jo Clausal 76 E dan/atau Clausal 88 Jo Clausal 76 I Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Pergantian atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan/atau Clausal 29 Jo Clausal 4 ayat (1) Jo Clausal 37 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2008 Mengenai Pornografi.

Lalu, Clausal 45 ayat (1) Jo Clausal 27 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Mengenai Pergantian atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Kabar dan Transaksi Elekronik, dengan intimidasi hukuman pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda terbanyak Rp5.000.000.000. (ndi)

LEAVE A REPLY