Seorang perempuan Muslim Bosnia sedang berduka di dekat jenazah yang baru berhasil dikenali, bulan Juli 2019 Foto: bbc

IDNEWS.CO.ID – Mahkamah Agung Belanda memutuskan kalau Belanda turut memikul tanggung jawab dalam pembantaian 350 Muslim Bosnia yang terjadi di Srebrenica pada tahun 1995.

Mahkamah menyatakan negara Belanda memikul tanggung jawab sebesar 10 persen, yang merupakan besarnya peluang kemungkinan tentara-tentara mereka – yang bekerja sebagai penjaga perdamaian saat itu – untuk mengupayakan menyudahi pembantaian.

Milisi etnis Serbia di Bosnia saat itu secara seluruh membunuh 8 ribu Muslim di kota Srebrenica tahun 1995.

Tentara Belanda sedang bekerja mengontrol wilayah aman yang ditetapkan oleh PBB saat wilayah itu diserang.

Begitu jarang satu negara dianggap memikul tanggung jawab atas kegagalan dalam misi perdamaian PBB.

Pada tahun 2002, sebuah laporan berkenaan andil Belanda di Srebrenica menyebabkan seluruhnya pemerintahan negeri itu mengundurkan diri.

Menurut ketentuan pengadilan, jika saja tentara Belanda memberikan peluang pada Muslim Srebrenica untuk tetap tinggal di perumahan mereka yang tertutup, peluang mereka untuk tertangkap oleh milisi Serbia cuma sebesar 10 persen

Dengan adanya ini jadi negara Belanda harus memikul tanggung jawab pada pembagian kerugian yang terkena oleh para korban, demikian ketentuan pengadilan.

Ketentuan final ini memberikan memberi kejelasan akan perang hukum bertahun-tahun yang terjadi di antara Pemerintah Belanda dengan kelompok keluarga korban yang dikenal dengan nama `Ibu-ibu Srebrenica`.

Perkara ini terangkat sampai ke mahkamah agung karena Belanda mau dibikin bersih dari tanggung jawab ini, para ibu Srebrenica meminta pertanggungjawaban untuk seluruh pembantaian sejumlah 8 ribu orang.

Sebelumnya, pengadilan tingkat banding mengambil keputusan tanggung jawab itu sebesar 30 persen, tetapi mahkamah agung memutuskan mengurangi banyaknya itu sampai tinggal 10 persen.(ach)

LEAVE A REPLY