IDNEWS.CO.ID – Kasus infeksi virus corona (Covid-19) di Kabupaten Bogor kian hari terus meningkat, bahkan pasien yang sudah diumumkan positif itu berada sampai pedesaan. Bupati Bogor, Ade Yasin, menyebut hal itu disebabkan masih tingginya aktivitas masyarakat dan sulitnya melacak riwayat pasien positif.

“Coronanya meningkat karena mereka yang masih beraktivitas tidak melaksanakan social distancing, sehingga tidak tahu tertularnya di mana. Mereka tidak tahu, tidak bisa memastikan, sehingga agak sulit men-tracking orang orang di dekatnya, kapan dan di mana,” kata Ade Yasin saat mengadang pengendara kendaraan bermotor dari luar Bogor menuju vila Puncak, di Pos Gadong, Sabtu. Vila-vila di Puncak selama ini jadi tempat tetirah favorit banyak warga setiap akhir pekan.

Apakah ada karantina desa? Ade menjelaskan, Pemerintah sudah menyarankan setiap desa menjaga wilayahnya masing-masing. Namun bukan berarti sama sekali tertutup, melainkan desa harus menyeleksi warga yang bisa masuk dan tidak.

“Karena kalau semua dibiarkan masuk ke desa ini, khawatir penyebaran akan sampai ke desa-desa. Mereka petani, rata-rata di kebun. Mereka tidak tahu pergaulan di kota, situasi di kota. Biarkan kondisinya seperti itu, biarkan mereka hidup dengan kebiasaannya dan kita yang harus jaga supaya desa juga tidak tertular,” kata Bupati.

Dilihat dari data. jumlah kasus di Kabupaten Bogor masih relatif sedikit, apakah masih banyak yang belum dilaporkan, seperti tiga pasien yang meninggal berbarengan di RSUD Leuwiliang? Menjawab pertanyaan itu, Ade menjelaskan tidak ada jumlah pasien positif yang disembunyikan. Dalam pendataan ini ada perubahan dari ODP (Orang Dalam Pemantauan) jadi PDP (Pasien Dalam Pengawasan) ataupun yang dipastikan negatif maupun positif Corona.

“Kalau yang kita laporkan positif itu tidak ada yang kita sembunyikan. Semua yang positif itu harus kita buka, karena itu kita kerja sama dengan Dinas Kesehatan. Kita menerima data dari Dinkes. Kalau ODP pasti berubah-ubah datanya, karena setiap orang yang masuk itu jadi ODP ya. Walaupun bukan dari luar negeri, seperti Jakarta, Depok, sudah pasti masuk ODP,” jelas Ade.

Begitu juga status PDP, Ade menambahkan, merupakan pasien yang dirawat di rumah sakit. Namun pada saat rapid test, hasilnya PDP ternyata negatif. Contoh, tiga pasien yang meninggal tersebut berstatus PDP dan belum terindikasi suspect corona sehingga tidak dimasukkan ke data positif.

“Karena data positif itu hitungannya dari Kabupaten ke Provinsi Jawa Barat dan ke nasional,” imbuh Ade.

Bupati juga menekankan tidak ada isolasi khusus di desa. Sebab, masing-masing desa memberikan keleluasaan mengatur bagaimana agar orang kota tidak berbondong-bondong masuk ke desa.

“Tetapi kebijakannya di desa seperti apa, tidak ada karantina khusus, karena ini butuh pengawasan juga dari pemerintah daerah, tetapi desa kerjasama dengan Musyawarah Pimpinan kecamatan (Muspika) RT RW dan Puskesmas sudah cukup membentengi mereka,” kata Ade.

Oleh karena itu, Ade berpesan kepada warga yang berada di desa jangan membiarkan orang luar masuk tanpa pantauan. Pihak desa harus mendata laporkan ke pihak kecamatan, atau muspika kemudian menjadi orang tersebut menjadi tamu yang dipantau bersama.

“Tetapi jangan dimusuhin. Jangan dianggap itu yang menularkan penyakit, kalau baru ODP adalah orang yang kita pantau tidak boleh ke mana-mana itu saja,” imbau Ade.

Sementara itu, kematian pasien positif corona di Kabupaten Bogor terus bertambah. Didominasi kaum lanjut usia, seorang di antaranya ada di wilayah pedesaan Jonggol. (fat)

LEAVE A REPLY