Capres Prabowo Subianto dan Capres Joko Widodo

IDNEWS.CO.ID – Tentu disayangkan ungkapan presiden dengan istilah politikus Genderuwo. Dalam situasi di mana hampir semua tindakan dan ucapan para capres dimasalahkan, ungkapan ini akan kembali menghangatkan suasana politik kita.

Setelah sebelumnya ungkapan wajah Boyolali yang menghebohkan, dan bahkan masih terasa perdebatannya sampai sekarang, justru istilah politikus Genderuwo ini selain akan jadi Perbaungan baru, juga sekaligus menutup bising soal wajah Boyolali.

Pengamat Politik Ray Rangkuti.

Akhirnya, publik kita hanya ribut soal ungkapan yang sebenarnya tidak perlu. Dan wajah kampanye kita hanya seperti bertarung mengungkapkan ungkapan yang saling menyindir, belum masuk ke soal-soal substantif.

Pengungkapan istilah seperti ini, tak menguntungkan kepada kedua belah pihak. Aroma negatifnya yang justru besar. Khususnya kepada Jokowi, sikap diamnya selama ini atas berbagai sindiran atau bahkan fitnah yang menghujamnya justru yang membuat simpati atasnya menguat.

Cara beliau menjawab seluruh sindiran, nyinyiran dan bahkan fitnah dengan fokus melaksanakan tugasnya justru jauh lebih efektif membuat elektabilitasnya naik dari pada sibuk dengan urusan ungkapan yang sekalipun tepat, tapi istilah-istilah yang dipakai akan potensial jadi perdebatan. Pada masyarakat yang literasinya masih berkutat pada simbol, kulit dan permukaan, pesan dari simbol tersebut justru terlupakan.

Oleh karena itu, tak lelah-lelahnya kita mendorong agar kedua pasangan capres dan timnya kembali ke cara berkampanye substantif. Memperdebatkan segala sesuatu yang berhubungan dengan hajat publik. Mengungkapkan tentang hal yang berhubungan dengan masa depan Indonesia, khususnya lima tahun ke depan. Ruang politik kita sudah terlalu banyak diisi oleh kampanye nyinyirisme. Kita perlu kembali ke kampanye substantif. (*)

LEAVE A REPLY