Ilustrasi cek gula darah. Foto: Hello Sehat

IDNews.co.id – Penambahan kandungan gula darah pada pasien diabetes bisa berisiko mengundang resiko pada kesehatan, seperti kelelahan, pusing, rusaknya saraf, tidak sukses ginjal, penyakit jantung, persoalan pada mata, lebih rawan terserang infeksi serta luka, bahkan juga kehilangan kesadaran atau koma

Dikutip dari diabetes. co. uk, Selasa (17/7/2018), merubah karbohidrat seperti nasi, roti, pasta, serta kentang dapat dikerjakan. Langkahnya dengan merubah atau kurangi porsinya serta ditukar dengan protein seperti daging serta telur.

Menurut beberapa periset Denmark, dengan kurangi daya yang diraih dari karbohidrat serta menambah konsumsi protein, peserta juga terasa lebih kenyang pada waktu makan. Studi ini meningkatkan bukti yang memperlihatkan bagaimanakah makan rendah karbohidrat bisa menambah kwalitas kesehatan, terlebih untuk beberapa orang dengan diabetes model II.

Responden terdiri dalam sekitar 16 orang dengan diabetes model II berumur 43-70 yang lagi tengah diobati dengan metformine. Dibagi berubah jadi tiga group yaitu diet standard, diet tinggi karbohidrat atau diet protein tinggi.

Group yang paling akhir kurangi daya mereka berwujud karbohidrat dari 29 % berubah jadi 16 % serta menambah daya protein dari 31 % berubah jadi 54 %. Beberapa periset dari Kampus Kopenhagen mengutarakan akhirnya jika mereka yang ikuti diet tinggi protein sudah kurangi kandungan glukosa sesudah makan sebesar 18 %. Lantas juga turunkan keseluruhan insulin sebesar 22 % dibanding dengan mereka yang mengkonsumsi makanan berkarbohidrat tinggi.

Periset juga mendapatkan jika kandungan dua hormon lainnya yang ikut serta dalam metabolisme yaitu glukosa-dependent insulinotropic polypeptide serta glucagon-like peptide 1 bertambah semasing 35 % serta 17 %. Sesudah itu, mereka yang diet protein tinggi memberikan laporan terasa kenyang lebih lama pada tiap tiap makan. Bahkan juga dapat kurangi impian mengemil.

Beberapa periset menuturkan dampaknya tambah lebih maksimal kalau di dukung dengan berolahraga dalam periode panjang. Temuan ini dapat sudah diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine. (ndi)

LEAVE A REPLY