Indonesia Fashion Week

IDNEWS.CO.ID – Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) siap menggelar ajang fashion dan budaya terbesar di Indonesia, Indonesia Fashion Week (IFW) 2020 untuk kedua kalinya. Untuk pagelaran IFW 2020 APPMI kembali mengangkat wilayah Kalimantan dengan tema “Tales of the Equator”-Treasure of the Magnificient Borneo. 

Tema ini dipilih APPMI untuk memperkenalkan budaya Kalimantan ke mata dunia melalui fashion mulai dari budaya suku Dayak, Kutai dan Banjar. Dalam pagelaran yang akan dilaksanakan pada tanggal 1 hingga 5 April 2020 mendatang, setidaknya ada beberapa desainer tanah air yang ikut berpartisipasi dalam ajang ini. Sebut saja Ivan Gunawan, Ida Royani, Naniek Rachmat hingga Misan Kopaka. 

Untuk Ivan Gunawan, pada penyelenggaraan IFW 2020 dirinya akan bekerjasama dengan sebuah pabrik yang menghasilkan aneka tekstil sintesis berbahan dasar serat kayu, Asian Pacific Rayon. Igun, sapaannya akan menyugukan rancangan yang diberi nama Bird of Happines. 

Dirinya akan menyuguhkan busana pret-a-porter, tiga set baju pria dan satu set busana wanita. Baju untuk jelita terdiri dari blus putih berlengan panjang dengan pita super besar di pergelangan yang dipadankan dengan outer panjang tanpa lengan. Sebentuk bordir burung Enggang atau Rakong dapak warna putih yang disematkan pada bagian punggung outer.

Sedangkan untuk pria jeans mendapat peran menjadi bagian lengan dan kantong kemeja atau kelepak kerah dan bis ujung lengan dari outer berbahan embroidery meningkahi blus linen. Berpadu celana panjang, dan 7/8 yang longgar. 

Igun menjelaskan dirinya akan menggunakan bahan viscose rayon, terbuat dari 100 persen selulosa kayu. Jadi ketika bajunya sudah tidak terpakai atau dibuang akan terurai di tanah. 

Ida Rosida akan mengangkat tema Extravaganza, yang mana dirinya akan mengaplikasikan motif tenun Dayak Kalimantan dalam gaun malam indah yang anggun serta mewah. 

Misan Kopaka akan mengusung tema “New Dayak” untuk gaun dan pakaian pria yang akan ditampilkan pada ajang IFW 2020 mendatang. Misan akan menggunakan bahan linen miing cotton dan tie dye jumputan indigo dan bordir motid Dayak untuk pakaian pria. Sedangkan untuk evening gown dirinya akan mengombinasikan dengan full of bordir dengan sentuhan touch of Swarowski dengan mixing fabric polister. 

Lalu Naniek Rachmat akan mengusung tema Neo Banjar. Yang mana Nanie akan menggunakan motif dan ragam warna kain Sasirangan. Naniek menjelaskan, kain Sasirangan pada awalnya merupakan wujud dari hasil perjalanan spiritual Patih Lambung Mangkurat di abad XII, yang terus berkembang menjadi salah satu bentuk perwujudan pengetahuan lokal masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya suku Banjar. 

Berangkat daru makna motif dan filosofo kain ini, Naneik menuangkannya dalam koleksi yang bergaris loose, relax dan modern. Dengan penggunaan bahan thai silk, chiffom silk, organza silk. 

Warna-warna membumi seperti coklat, terakota, hijau lumut menjadi pilihan yang melambangkan ketenangan dan kedamaian. Koleksinya kali ini merupakan percampuran unsur ethnik, glam, modern & ekletik. 

“Setiao elemen memiliki daya sial pakai yang tinggi sehingga mudah untuk mix and match,” kata Naniek. 

LEAVE A REPLY