Ilustrasi

IDNEWS.CO.ID – Bencana angin puting beliung yang melanda tiga desa yakni Desa Sumberbrantas, Desa Gunungsari, dan Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, membuat 1.182 warga mengungsi. Penyebabnya, bangunan rumah milik warga rusak akibat diterjang angin puting beliung.

Salah satu korban angin puting beliung adalah Slamet Plencung (49 tahun), warga Dusun Lemah Putih, Desa Sumber Brantas, Kota Batu. Dia terpaksa mengungsi sekeluarga, terdiri 4 anggota keluarga. Istri dan dua anaknya. Sejak, Minggu malam, 20 Oktober 2019, dia mengungsi ke rumah dinas Wali Kota Batu.

“Harus mengungsi 4 orang semua tidak ada yang di rumah. Sejak kemarin malam tidur di posko rumah dinas Wali Kota Batu. Ya untunglah bisa tidur, bisa makan dan mandi meski tidak bawa bekal apa-apa. Karena kemarin cepat-cepat yang penting selamat,” kata Slamet, Senin (21/10/2019).

Slamet menuturkan, bahwa bencana angin puting beliung terjadi sejak Sabtu malam, 19 Oktober 2019. Saat itu pukul 21.00 WIB angin berhembus cukup kencang. Hingga Minggu petang angin masih berhembus kencang. Bahkan pada Senin dinihari sekitar pukul 02.00 WIB angin kembali datang dengan kencang dan menyapu beberapa bangunan rumah warga.

“Angin sama debu itu muter sampai 30 meter tingginya tepat di belakang rumah. Bagian belakang rumah dapur baru dibangun 15 hari habis tersapu angin, di bagian depan juga habis atap dan bangunan bagian ruang tamu roboh,” ujar Slamet.

Slamet mengatakan, akibat sapuan puting beliung ini total kerugian yang diderita sekitar Rp25 juta. Dia mengungkapkan, baru saja melakukan renovasi rumah pada bagian dapur. Namun, saat ini kondisi rumahnya porak poranda diterjang angin puting beliung.

“Ya kerugian sekitar Rp25 juta, bagian belakang dan rumah hancur. Ini sudah tiga kali desa terkena angin puting beliung. Pertama tahun 1992, tahun 2002 dan tahun ini 2019. Cuma tahun ini paling parah, rumah roboh, warung roboh, tiang listrik roboh, bahkan bangunan pabrik yang dari besi saja ambruk apalagi rumah,” tutur Slamet.

Selain kerusakan bangunan rumah, dia juga dipusingkan dengan lahan tanaman wortel yang dia miliki. Sebagai petani, bertanam menjadi pekerjaan utamanya. Namun, tanaman wortel yang bakal dipanen akhir bulan Oktober terlebih dahulu hancur tersapu puting beliung.

“Lahan pertanian wortel saya rusak, ini sudah mendekati masa panen. Apalagi lahan wortel saya sudah dibayar oleh tengkulak. Dari total deal Rp12 juta sudah dibayar Rp6 juta. Jadi ya harus mengganti rugi. Tapi yang penting saat ini saya memikirkan selamat dulu,” kata Slamet. (ndi)

LEAVE A REPLY