Ustaz Abdul Somad usai ceramah di KPK

IDNEWS.CO.ID – Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi sempat melarang kehadiran Ustaz Abdul Somad untuk mengisi ceramah di masjid KPK, Selasa, 19 November 2019. Alasannya, UAS begitu sapaan Ustaz Abdul Somad, sempat menjadi kontroversi.

Ketua KPK, Agus Rahardjo, bahkan akan memeriksa pegawai yang mengundang UAS ceramah di masjid lembaga antirasuah itu. Agus mengatakan pimpinan sudah mencegah kehadiran UAS pada malam sebelum acara itu berlangsung, namun tidak diindahkan oleh para pegawai.

Kehadiran UAS di KPK pun akhirnya menjadi polemik. Padahal, sebelum ke KPK, UAS juga mengisi tausiah di Mabes TNI AD. Bahkan di sana UAS diundang secara resmi. UAS menunjukkan undangannya di akun Instagram resminya.

Jumat, 22 November 2019, di channel Youtube Ustadz Abdul Somad Official, ceramahnya pun tidak ada yang berisi kontroversi. UAS mengulas mengenai integritas.

Berikut potongan ceramah UAS selama tujuh menit dari 42 menit lengkapnya:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Saya diberi waktu 60 menit, sama seperti di tempat lain, kalau di sini tidak boleh lebih walaupun semenit. Suatu ketika saya datang ke kantor untuk berikan tausiyah tidak boleh disebutkan nama kantor karena menjaga kode etik jurnalistik. Kata dia pernah enggak UAS ketemu dengan pegawai KPK? Kata saya, belum.

Mereka pernah datang ke kantor saya Pak, saya beri sama seperti tamu yang lain dikasih makan, dikasih minum tapi mereka tidak mau. Kata mereka (pegawai KPK) saya sudah bawa air minum sendiri. Masih manusia mereka (candaan). Cerita ini sudah 3-5 tahun yang lalu. Apakah sekarang masih sama saya tidak tahu wallahu a’lam.

Tapi integritas bahwa kita harus menjaga kesucian makanan adalah bagian dari ajaran Islam, belum cerita masalah mobil dan kendaraan dan fasilitas. Baru masalah makanan.

Ada seorang perempuan kerjanya menenun kain. Kain yang terbuat dari kapas dipintal menjadi benang. Benang ditenun menjadi kain. Tapi dia menenunnya hanya di waktu malam, karena kalau di waktu siang dia sibuk urus anak karena tidak punya pembantu. Tapi malam dia tak punya lampu, dia naik ke atap rumah. Atap rumah orang Arab itu datar namanya satah. Saat itu dia menenun. Dia hanya bisa menenun kalau tentara kerajaan lewat dan menyalakan lampu. Setiap tentara lewat membawa lampu yang terang, dia pun mulai menenun dan ketika pasukan mulai berlalu, dia berhenti.

Ketika tentara nanti lewat tengah malam, dia kembali menenun dan ketika gelap dia berhenti. Begitulah yang dia lakukan setiap malam sampai akhirnya kain itu jadi. Satu kain hasil dari menenun karena pasukan tentara kerajaan lewat. Setelah kain selesai, ditanyakanlah kepada imam pendiri mahzab Hanbali bernama Ahmad bin Hanbal. Wahai Imam Ahmad bin Hanbal, apakah boleh saya menjual kain ini. Halalkah kain ini jika saya jual? Imam bin Hanbal tidak menjawab, tapi dia balik bertanya kamu siapa?

Perempuan itu menjawab saya adalah saudara kandung Imam Bisyr Al Hafi, seorang ulama sufi, ulama yang menjaga hatinya, seorang ulama yang menjaga makanannya. Maka kata imam Ahmad bin Hanbal belum pernah dalam hidup saya, ada orang bertanya tentang hukum memakai lampu yang dipakai kerajaan ketika sedang lewat, apa salahnya?

Kira-kira masih adakah pedagang yang memperhatikan hasil jualannya. Zaman itu abad ketika hijrah orang masih memikirkan apa efek negatif yang diterima dari memakai lampunya, cahayanya, tidak ada ruginya. Tapi masih ada yang memperhatikan.

Hari ini, orang bukan hanya memakai lampunya, tapi menjual lampunya, sekalipun tidak dia pikirkan yang penting saya bisa nyaman, tenang. Oleh sebab itu masalah kejujuran terkait dengan makanan, makanya di antara doa yang diajarkan Nabi, aku berlindung padamu ya Allah dari ilmu yang tak bermanfaat. Apa guna ilmu tak bermanfaat. Banyak profesor, banyak doktor, PHD, banyak orang berkarya tapi tidak ada manfaat akibat tidak memperhatikan makanan.

Makanan akan sangat penting karena makanan akan menjadi setetes darah dan darah akan masuk ke dalam jantung, dari jantung darah anak naik ke otak dan kepala. Dari kepala inilah turun ke mata, ke telinga, ke tangan turun ke hati. Jangan heran jika yang gelap tidak dapat hidayah itu bukan telinga, kepala, tapi yang pertama itu hati.

Makanya kata Nabi, sekali salah satu titik hitam, dua kali salah satu titik hitam, tiga kali salah satu titik hitam, akhirnya hati itu pun gelap. Jaga makananmu maka akan dikabulkan doanya. (ach)

LEAVE A REPLY