IDNEWS.CO.ID – PT Unilever Indonesia, Tbk. kembali membuktikan komitmennya untuk
berkontribusi menanggulangi permasalahan sampah plastik melalui penandatanganan Perjanjian Kerja
Sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta dan PT Solusi Bangun Indonesia, Tbk
(SBI). Dalam kolaborasi ini Unilever Indonesia turut mendukung kegiatan penambangan sampah atau
landfill mining pada zona tidak aktif TPST Bantargebang yang akan mencapai kapasitas maksimumnya
dalam beberapa tahun mendatang. Melalui kegiatan landfill mining, sampah khususnya sampah plastik
akan diproses menjadi material yang dapat digunakan kembali sebagai bahan bakar alternatif atau
Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai pengganti batu bara di industri semen.

Rizki Raksanugraha, Director of Supply Chain PT Unilever Indonesia, Tbk. menjelaskan,
“Permasalahan sampah terutama sampah plastik merupakan isu pelik yang membutuhkan perhatian dan kerja sama lintas sektor, termasuk kami sebagai pihak swasta. Unilever percaya bahwa sampah plastik memiliki tempatnya di dalam ekonomi, tetapi tidak di lingkungan. Kami juga percaya bahwa sampah plastik jika dikelola dengan baik akan bisa menjadi sumber daya yang berguna. Upaya kolaborasi ini menjadi sangat penting untuk tidak hanya menciptakan lingkungan yang bersih, namun juga memberikan manfaat secara ekonomi.”

Secara global, Unilever berkomitmen untuk paling lambat pada tahun 2025 akan mengurangi setengah
dari penggunaan virgin plastic atau plastik baru dengan cara mengurangi penggunaan kemasan plastik
secara absolut sebanyak 100.000 ton dan mempercepat penggunaan plastik daur ulang. Selain itu,
Unilever juga terus membantu mengumpulkan (collect) dan memproses (process) lebih banyak kemasan
plastik daripada yang dijualnya.

“Kolaborasi kami bersama DLH DKI Jakarta dan PT SBI merupakan perwujudan dari komitmen collect
and process ini. Di tengah fakta bahwa jumlah timbulan sampah plastik nasional pada 2020 telah
mencapai sekitar 10 juta ton per tahun 1 , kami ingin mendukung terciptanya tempat pengelolaan sampah berteknologi ramah lingkungan agar timbulan sampah dapat diproses dengan baik dan akhirnya memiliki daya guna yang berkelanjutan,” lanjut Rizki.

Pilot project untuk penambangan sampah untuk menjadi RDF di TPST Bantargebang telah dimulai sejak
tahun lalu. Sumber sampah yang digunakan berasal dari Zona IV yang berusia lebih dari 10 tahun.
Proses untuk mengubah sampah ini menjadi bahan bakar meliputi penggalian dan pengayakan pada
fasilitas TPST Bantargebang, lalu dikirim ke lokasi pabrik PT SBI untuk dicacah (crushing) dan
dikeringkan (drying) guna menghasilkan RDF yang berkualitas. Project ini diperkirakan akan
menghasilkan RDF sekitar 1.000 ton/bulan – dimana 80-90%nya terdiri dari sampah plastik.

Lilik Unggul Raharjo selaku Direktur PT Solusi Bangun Indonesia, Tbk. berkomentar, “Kami
menyambut baik kerja sama dengan Unilever Indonesia sebagai pihak produsen pertama yang terlibat
dalam kolaborasi ini. Dengan misi sejalan untuk melestarikan lingkungan melalui pengelolaan sampah
yang optimal dan terintegrasi, Unilever Indonesia akan terlibat dalam mendukung operasional proses
crushing dan drying di fasilitas kami untuk turut memastikan bahwa kapasitas dan kualitasnya dapat terus ditingkatkan.” Ir. Andono Warih, M.Sc, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta memandang bahwa penandatanganan Perjanjian Kerja Sama ini memperlihatkan keseriusan pihak produsen yang telah mengambil langkah proaktif dan upaya konkret untuk mendukung pengelolaan sampah. “Dalam

1 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI  menangani permasalahan sampah, kolaborasi dan pembagian peran menjadi sangat penting. Pihak
produsen memiliki peran yang besar untuk ikut mengatasi persoalan sampah plastik bersama pemerintah dan masyarakat, layaknya Unilever Indonesia dan PT SBI sebagai mitra kami dalam project ini. Semoga kerja sama ini mampu menstimulasi kolaborasi serupa di masa mendatang.”
Untuk turut mewujudkan dunia yang bersih dari sampah plastik, Unilever Indonesia telah menerapkan
berbagai strategi mulai dari hulu ke hilir rantai bisnisnya. Dari hulu, Perusahaan mengembangkan dan
menerapkan desain produk dengan pendekatan mengurangi plastik (less plastic), plastik yang lebih baik
(better plastic) dan tanpa plastik (no plastic). Dilanjutkan dengan edukasi berkelanjutan untuk membangun kesadaran dan mendorong perubahan perilaku masyarakat secara menyeluruh. Tak kalah penting, upaya mengatasi masalah sampah kemasan plastik di bagian hilir pengolahan sampah juga dilakukan bekerja sama dengan berbagai forum pemangku kepentingan.

“Kami percaya semua pihak dalam rantai persampahan memiliki peran masing-masing untuk membantu
mengatasi permasalahan sampah. Melalui semangat #MariBerbagiPeran yang diusung oleh Perusahaan,kami akan terus mengali peluang dan potensi kerja sama dengan berbagai pihak untuk bersama menuju Indonesia yang lebih bersih dan lestari,” tutup Rizki. (ndi)

 

LEAVE A REPLY