Film Rampage. Foto: Den of Geek

IDNews.co.id – New Line Cinema dan ASAP Entertainment akan meluncurkan film Rampage’ pada 13 April 2018 besok. Film yang memiliki nuansa sci-fi dengan unsur biologi khas primata ini cerita tentang kekeliruan uji coba genetis pada hewan, sebagai sebuah bencana saat mengalami kecelakaan pengamatan.

Bermula dari pengamatan dan rekayasa genetis di proyek ‘Rampage’ punya perusahaan bernama Energyne, usaha yang begitu beresiko itu dilakukan diluar angkasa supaya tak beresiko fatal. Namun, karena sebuah kekeliruan, sampel pengamatan juga beralih jadi monster.

Dalam usaha penyelamatan seorang kru akan sampel pengamatan itu, kapsul penyelamat yang membawanya menuju bumi juga terbakar dan menyebabkan bahan beresiko dari sampel pengamatan tersebit jatuh ke bumi dan mendarat di sebuah taman nasional di San Diego.

Davis Okoye (Dwayne Johnson) sebagai ahli primata sekalian pawang di sebuah taman nasional primata itu, satu pagi menemukan gorila putih asuhannya, George, mendadak badannya jadi semakin besar karena hirup zat dari sampel pengamatan yang jatuh dari luar angkasa itu.

Pihak Energyne juga lalu memburu sampel itu, dan berupaya menangkap sejumlah hewan yang terkena radiasi sampel pengamatan itu.

Peristiwa ini menyebabkan Kate Caldwell, mantan peneliti Energyne dan pembuat sampel itu, sampai memutuskan untuk bertemu Davis dan mengupas efek dari zat pada sampel yang pengaruhi George. Namun ternyata, tidak cuma George sebagai raksasa karena zat itu, namun terdapat banyak hewan beda yang dipengaruhi sampel beresiko itu seperti serigala dan buaya.

Zat patogen buat hewan-hewan yang terkena efek sampel beresiko itu jadi semakin besar, lebih kuat, lebih cepat, dan dapat menyembuhkan luka sendiri karena sel yang selalu beregenerasi.

Bencana juga berawal saat Energyne menyalakan tanda radio berfrekuensi rendah yang memancar ke semua kota, hingga menyebut para hewan gigantik itu untuk datang ke tengah kota. Padahal, mereka cuma menginginkan ambil sampel DNA dari hewan-hewan berukuran raksasa itu.

Film aksi-laga ini dinilai sukses dalam menghadirkan keseruan yang maksimal, pada sejumlah adegan menegangkan yang disuguhi. Rancangan dampak visual yang dihidangkan juga betul-betul rapi, dan dapat membawa nuansa kenyataan di mata pemirsa pada setiap adegannya.

Apalagi, sutradara Brad Peyton juga dapat mendatangkan sentilan komedi pada sejumlah dialog pada Davis dan George, walau menggunakan bahasa isyarat khas primata.(ndi)

LEAVE A REPLY