Ilustrasi Hakim kabulkan gugatan Godrej Mid East. Foto: Tribunnews.com

IDNEWS.CO.ID – Majelis Hakim memutus gugatan perdata penggunaan merek Stella. Hasilnya, perusahaan Godrej Mid East Holding Limited, dinyatakan sah secara sah sebagai pemegang penuh merek itu.

Produsen Home and Personal Care yang berbasis di India itu, melalui Kuasa Hukumnya, Lexyndo Hakim, sebelumnya menggugat perkara merek ke Pengadilan Niaga (PN) Niaga Surabaya supaya Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) mencoret merek Stella atas nama Budi Wardana.

Dalam putusannya, Ketua Majelis Hakim Anne Rusiana menyatakan, merek Stella milik tergugat Budi Wardana bertentangan dengan pasal 21 ayat (1) huruf a, pasal 21 ayat (3) UU Merek.

“Memerintahkan turut tergugat (DJKI) merek Stella,” kata Hakim dalam amar keputusannya, yang dikutip pada hari Rabu (17/7/2019).

Lexy menilai Budi Wardana memakai merek Stella tanpa ijin sehingga bertentangan dengan pasal 21 ayat 1 huruf a dan ayat 3 UU Merek No. 20/2016 tentang Merek.

Lexy berpandangan bahwa permohonan merek di DJKI bisa ditolak kalau merek sudah terdaftar milik pihak lain untuk barang atau jasa.

“Bahwa saat ini putusan tersebut sudah inkraht (berkekuatan hukum tetap) tinggal dilanjutkan proses administrasi saja.Putusan tersebut dinilai menjadipenegasan bagi penggunaan merek Stella,” terang Lexy selaku pimpinan Hakim & Hakim Law Firm menanggapi putusan pengadilan.

Dari halaman Godrej Indonesia, perusahaan ini mengakuisisi grup PT Megasari Makmur yang bergerak di bidang perawatan rumah tangga, pada 2010. Dengan investasi sebesar US$100 juta, Godrej Indonesia membangun fasilitas mutakhir di Indonesia.

Adapun produk andalannya di market Indonesia, yakni selain Stella untuk penyegar udara, HIT sebagai insektisida rumah tangga dan Mitu dalam perawatan dan tisu bayi.

Merek Stella disematkan Godrej selain di tabung penyemprot, ada Stella Matic Parfumist dan Stella Matic Regular yaitu alat penyemprot berteknologi matik, Stella Pocket Barthroom untuk penyegar kamar mandi, dan Stella Car Vent untuk penyegar di kendaraan.

Sengketa merek Stella di antara keduanya bermula ketika Godrej, melalui Kuasa Hukumnya, Lexyndo Hakim, dari Kantor Advokat Hakim & Hakim Law Firm, menggugat Budi Wardana dengan perkara No. 26/Pdt.Sus-HKI/Merek/2018/PN Niaga Sby, pada 22 November 2018.

Dalam petitum gugatannya Godrej meminta Pengadilan  untuk menyatakan pendaftaran merek Stella dengan pendaftaran No. IDM000191567, tertanggal pendaftaran 28 Januari 2009 dari tergugat untuk kelas jenis barang nomor 3 adalah batal.

Jenis barang nomor 3 dalam sistem klasifikasi merek mencakup sediaan-sediaan untuk memutihkan dan mencuci, sediaan-sediaan untuk membersihkan, mengkilatkan, membuang lemak, sabun, wangi-wangian, minyak sari, kosmetik, minyak rambut, bahan-bahan pemeliharaan gigi.

Godrej memerintahkan DJKI sebagai turut tergugat untuk mencoret merek Stella dari daftar umum merek sesuai dengan pasal 92 ayat 1 tentang UU Merek dengan memberikan alasan dan tanggal pembatalan atau penghapusan merek.

Selain itu, Godrej, mengajukan gugatan supaya pengadilan dalam putusannya memerintahkan turut tergugat mengumumkan pencoretan pembatalan merek Stella dengan pendaftaran IDM000191567 dalam berita resmi merek, seperti diatur dalam pasal 93 ayat 3 UU Merek.

Lexy menambahkan, Godrej juga meminta supaya sertifikat merek dari yang bersangkutan milik tergugat tidak berlaku lagi.

“Prinsipnya Gugatan dilakukan demi kepastian Hukum, dan klien kami adalah pemegang Hak Merek Stella yang sah secara Hukum sejak tahun 1992 yang lampau”, ujar Lexy.

Lexy menilai, Undang-undang di Indonesia sudah mengatur sedemikian rupa terkait Hak Kekayaan Intelektual seseorang maupun Badan Hukum, bagi siapapun yang beritikad tidak baik ingin mendompleng merek tertentu untuk bisnis atau usahanya secara tidak fair. Jika tidak, ia bisa diproses hukum.

“Apalagi bila adanya unsur kesengajaan dalam meniru sebuah Merek tertentu dalam berusaha, akan langsung dapat diajukan upaya Hukum baik pidana maupun perdata”, tutur Lexy. (ndi)

LEAVE A REPLY