Ilustrasi Garis polisi. Foto: toentas.com

IDNEWS.CO.ID – Populasi Harimau Sumatera atau Panthera tigris sumatrae kian terancam oleh pengejaran liar yang dilakukan sekelompok orang untuk cari keuntungan di Propinsi Riau.

Perkara pengejaran satwa dilindungi itu akhirnya terbongkar dalam operasi yang dilakukan team kombinasi Badan Intelijen dan Keamanan Polri dan Ditjen Gakkum KLHK, pada Sabtu 7 Desember 2019.

Berdasarkan hasil pengumpulan bukti-bukti aparat kombinasi melakukan penangkapan di sebuah area di Desa Teluk Binjai, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau.

Di area ini aparat amankan pasangan suami istri M dan E. Hasil pencarian ditemukan, empat ekor janin Harimau Sumatera yang disimpan dalam toples plastik.

Peningkatan perkara ini langsung dilakukan dan menandai dua pelaku yang lain, SS dan TS.

Keduanya ditangkap aparat di kawasan Jalan Lintas Timur Sumatera, Kabupaten Pelalawan. Kesempatan ini ditemukan satu lembar kulit harimau sumatera yang di percayai hasil pengejaran liar.

Direktur Mencegah dan Penyelamatan Rimba KLHK, Sustyo Iriyono mengatakan, kejahatan yang mengintimidasi kelestarian tanaman dan satwa dilindungi di Indonesia dan secara global merupakan permasalahan yang serius.

Oleh karena itu dibutuhkan kolaborasi dalam perlakuan permasalahan yang terjadi dan memaksimalkan penegakan hukum pada para pelaku.

Prilaku pengejaran liar menyebabkan pada kepunahan satwa. Kian tingginya ultimatum dan kian beragamnya modus kejahatan bikin pemerintah melalui institusi terkait harus lebih dapat menaikkan pengawasan dan mengontrol kelestarian tumbuhan dan satwa liar yang ada.

Berdasar pada penelitian yang dilakukan oleh PPNS KLHK pada pelaku dipraktekkan Klausal 40 Ayat 2 Jo. Klausal 21 Ayat 2 Huruf d Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Resapi dan Ekosistemnya dengan ultimatum hukuman penjara paling lama lima tahun dan denda Rp100 juta. (ach)

LEAVE A REPLY