Mataf di Kabah.

IDNEWS.CO.ID – Seraya membenamkan kepala di tangannya, Sajjad Malik terlihat sedih. Kantor pemesanan taksi yang dia kelola dekat Masjidil Haram di Mekah kosong. “Tak ada pekerjaan, tak ada gaji, tak ada apa-apa,” katanya.

“Biasanya dua atau tiga bulan sebelum ibadah haji, saya dan para pengemudi menghasilkan cukup uang untuk bertahan selama sisa tahun ini. Tapi sekarang tidak ada apa-apa.”

Salah satu pengemudinya, Samiur Rahman, salah satu pekerja asing di Arab Saudi, mengabari kantornya tentang keadaan di jalan-jalan sekitar menara jam Mekah yang populer.

Lautan peziarah hilang. Biasanya para peziarah berbaris di jalan-jalan, berpakaian putih, dengan memakai payung untuk melindungi diri dari panas yang hebat.

Saat ini mobil-mobil kosong tanpa penumpang dan kota terlihat seperti kota hantu. Karyawan Sajjad hanya mengirimnya video-video merpati yang memenuhi jalan.

“Pengemudi saya tidak bisa makan dan sekarang mereka tidur berempat atau berlima di satu kamar yang sebetulnya hanya cukup untuk dua orang,” kata Sajjad.

“Pengemudi saya tidak bisa makan dan sekarang mereka tidur berempat atau berlima di satu kamar yang sebetulnya hanya cukup untuk dua orang,” kata Sajjad.

Saya bertanya kepadanya apakah dia menerima bantuan pemerintah. “Tidak, tidak ada bantuan, tidak ada. Saya punya tabungan yang kami habiskan. Tapi saya punya banyak staf – lebih dari 50 orang bekerja untuk saya – dan mereka menderita.

“Salah satu teman saya menelepon kemarin, dan mengatakan, `Tolong saya butuh pekerjaan, saya bahkan tidak peduli berapa gaji yang akan Anda bayar.` Percayalah, orang-orang menangis. ”

Hanya ada sedikit pelanggan yang dilayani Samiur Rahman pada ibadah haji tahun ini.

Ada pembatasan ketat untuk ibadah haji tahun ini.

Arab Saudi menjadi salah satu negara di Timur Tengah yang mencatatkan jumlah positif Covid-19 yang banyak.

Biasanya, dua juta peziarah datang dari seluruh dunia ke Mekah. Namun, kini mereka tidak diizinkan masuk dalam upaya menghentikan penyebaran Covid-19.

Hanya mereka yang sudah tinggal di negara itu yang diizinkan untuk melakukan ibadah haji – sehingga jumlah jemaah menjadi hanya 10.000 orang.

Pekerja menyemprotkan desinfektan pada koper-koper di sebuah hotel di Mekah.

Peziarah tidak akan dapat dengan bebas minum dari Sumur Zamzam yang suci, airnya kini harus ditaruh di botol masing-masing.

Saat melakukan ritual jumrah di tiga pilar di Mina, yang melambangkan penolakan iblis, kerikil harus disterilkan.

Sementara, gelombang besar peziarah biasanya mendatangkan pesanan yang menguntungkan bagi peternak dari negara-negara tetangga seperti Kenya.

Kini, kawanan ternak itu banyak yang tidak terjual.

“Bisnis ternak di Kenya besar dan merupakan andalan bagi sebagian besar rumah tangga di negara ini. Sebagian besar peternak memperoleh keuntungan terutama selama periode haji,” kata Patrick Kimani dari Asosiasi Produsen Ternak Kenya. (ach)

LEAVE A REPLY