Ilustrasi masker kain.

IDNEWS.CO.ID – Para ilmuwan telah menemukan cara baru untuk ‘mendisinfeksi’ dan memperpanjang penggunaan masker saat ini, yang bisa menjadi terobosan besar.

Ilmuwan dari Laboratorium Akselerator Nasional SLAC Departemen Energi, Universitas Stanford, dan Cabang Medis Universitas Texas, kini telah menemukan teknik baru, yang memungkinkan masker didisinfeksi dan membuatnya lebih aman untuk digunakan kembali.

Menurut peneliti, sesuatu yang sederhana seperti ‘memanaskan’ masker relatif dapat mendisinfeksi virus, dan membantu mendaur ulangnya untuk digunakan lebih lanjut. Strategi yang menurut para peneliti pasti membantu petugas kesehatan pada saat seperti ini, dapat mengurangi masalah kekurangan dan tidak berkontribusi pada polusi pandemi juga.

Baca juga: Suka Pakai Baju Warna Hitam? Ini Artinya

“Anda dapat membayangkan setiap dokter atau perawat memiliki koleksi pribadi hingga selusin masker. Kemampuan untuk mendekontaminasi beberapa masker ini saat mereka sedang rehat, akan mengurangi kemungkinan masker yang terkontaminasi virus COVID-19 akan mengekspos pasien lain,” kata Steven Chu, fisikawan senior sekaligus penulis studi ini, dalam sebuah pernyataan, dikutip Times of India, Rabu 30 September 2020.

Meskipun belum ada penelitian untuk mengonfirmasi reaksi virus corona yang bersentuhan dengan suhu tinggi, para ilmuwan yang berbasis di Universitas Stanford, menemukan cara baru untuk menggabungkan panas dan kelembapan untuk mendekontaminasi dan menonaktifkan virus secara luas.

Dengan melakukan eksperimen di lingkungan yang aman, para ilmuwan meniru situasi kehidupan nyata dengan mencampurkan strain SARS-CoV-2 dalam cairan, seperti cairan yang keluar dari mulut kita, saat seseorang batuk, bersin, atau bernapas.

Baca juga: Dicari Najwa Shihab, Menkes Terawan Sibuk Urus Biaya Pasien COVID-19

Larutan tetesan kemudian dibuat mengering di udara pada kain serat polypropylene leleh khusus, yang juga digunakan dalam pembuatan masker N95 dan kemudian dipanaskan pada pengaturan suhu yang berbeda, selama 30 menit.

Lingkungan dengan kelembapan dan panas yang tinggi mampu mengurangi beban virus pada kain. Namun, panas yang ekstrem mengurangi kepekaan masker untuk menyaring kuman dan virus.

Suhu terbaik untuk ‘memasak’ dan membasmi virus ternyata 85 derajat celcius, dengan kelembapan relatif 100 persen. Para ilmuwan dapat mengamati tidak ada jejak virus penyebab COVID-19 setelah masker sampel dirawat di bawah lingkungan tertentu.

Selain itu, diamati juga bahwa metode tersebut akan mendekontaminasi masker dan membuatnya cocok untuk digunakan hingga 20 kali, yang berpotensi membantu menghemat sumber daya. Lebih jauh lagi, teknologi pembunuh virus juga dapat berguna untuk memerangi jenis virus lain yang diketahui menginfeksi manusia, termasuk virus flu biasa dan chikungunya.

LEAVE A REPLY