Ilustrasi demo. Foto: Sukoharjonews.com

IDNEWS.CO.ID – Polisi telah menentukan seorang sebagai tersangka atas tewasnya mahasiswa bernama Randi (21) saat aksi demonstrasi di Kendari, Sulawesi Tenggara sekian waktu lalu.

Tersangka bernama Brigadir AM merupakan salah di antara satu dari enam anggota Polda Sultra yang bawa senjata api saat amankan demonstrasi itu.

Kepala Biro Penerangan Orang Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo, mengatakan diduga ke enam anggota yang bawa senpi itu tak ikuti pengarahan mendekati penyelamatan. Seperti diketahui Kapolri sudah melarang anggota bawa senapan api saat amankan aksi demonstrasi.

“Ya (diduga tak turut pengarahan),” kata Dedi pada Kamis, 7 November 2019.

Dedi menambahkan, ke enam anggota ini merupakan anggota reskrim yang pekerjaannya sampai pagi hari. Ini diduga jadi yang menimbulkan keenamnya tak turut pengarahan.

“Mereka anggota reskrim kebetulan pekerjaannya kan hingga sampai pagi. Siang langsung ke tempat (demonstrasi) untuk laksanakan penyelamatan,” kata Dedi.

Disamping itu, Kapolda Sultra Brigadir Jenderal Polisi Merdisyam mengatakan, faksinya masih memahami alasan Brigadir AM melepas tembakan yang bikin Randi meninggal.

“Masih akan didalami kelak saat kontrol tersangka,” pungkasnya.

Pengesahan tersangka pada Brigadir AM melalui kontrol pada 25 saksi, termasuk enam anggota Polri yang bisa di buktikan melakukan pelanggaran etik karena bawa senjata api saat amankan aksi demonstrasi.

“Selanjutnya dilakukan kontrol pada ia ahli yang merupakan dokter yang melakukan visum pada korban,” kata Kasubdit V Dittipidum Bareskrim Polri, Komisaris Besar Polisi Chuzaini Patoppoi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis, 7 November 2019.

Hasil dari visum, mahasiswa bernama Randi memang dinyatakan meninggal terkena peluru tajam. Sesaat satu mahasiswa yang lain bernama Yusuf tidak diartikan terkena peluru tajam.

Kecuali melakukan kontrol saksi, polisi pula melakukan olah tempat peristiwa masalah (TKP). Dari olah TKP itu ditemukan tiga proyektil dan enam selongsong.

Polisi lantas melakukan uji balistik pada proyektil dan selongsong itu. Hasil uji balistik lantas dipertemukan dengan enam senjata yang dibawa enam anggota.

“Hasilnya satu senjata sama dengan dua proyektil dan dua selongsong. Mengaitkan dua proyektil dan selongsong sama senjata api jenis HS yang dipunyai Brigadir AM,” tuturnya.

Selesai gelar masalah, polisi lantas akhirnya mengaitkan Brigadir AM sebagai tersangka. Brigadir AM dijaring 351 KUHP ayat 3 atau 359 KUHP subsider clausal 360 KUHP.

“Pada Brigadir AM dilakukan penahanan dan berkas masalah dilimpahkan JPU,” pungkasnya. (ndi)

LEAVE A REPLY