Vaksin COVID-19 (ilustrasi)

IDNEWS.CO.ID – Program vaksinasi COVID-19 dikabarkan mulai dilakukan pada awal November 2020. Vaksin tersebut direncanakan diberikan pertama kali kepada tenaga medis, pelayan publik, TNI/Polri dan seluruh tenaga pendidik.

Kabar tersebut tentu menjadi secercah harapan bagi masyarakat, namun tidak sedikit dari orang yang menayakan tentang dampak vaksinasi tersebut. Apakah vaksin tersebut tidak mempengaruhi kondisi kesehatan atau tidak?

Terkait dengan hal ini, Spesialis Mikrobiologi FKUI, Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono angkat bicara. Dia menyebut untuk mengetahui efektivitas dari vaksin tersebut perlu menunggu hasil dari uji fase tiga yang saat ini tengah dilakukan. Menurut Pratiwi, hingga saat ini seluruh calon vaksin virus corona masih dalam tahap uji coba fase-3.

Baca juga: Indonesia Gabung ke Aliansi Akses Vaksin COVID-19 COVAX?

“Kita lihat semuanya (vaksin) belum menyelesaikan uji fase 3. Ini harus sabar. Harus ditunggu sampai hasilnya keluar selesai untuk melihat seberapa besar evikansinya, efisiensinya berapa persen, apakah 100 persen atau tidak,” kata Pratiwi dalam acara polemik Trijaya FM, Yakin dengan Vaksin, Sabtu 17 Oktober 2020.

Pratiwi menjelaskan, jika vaksin itu bisa melindungi lebih tinggi misalnya sampai 80 persen. Jika efektivitas kurang dari 50 persen, maka vaksin tersebut bisa dipakai hanya khusus saat pandemi. 

“Kalau hanya 30 persen sangat riskan digunakan,” jelas dia.

Pratiwi menjelaskan, dari hasil uji coba fase-3 juga dapat menentukan berapa banyak dosis vaksin yang diberikan kepada masyarakat. Selain itu, hasil uji coba fase-3 ini juga bisa dilihat siapa saja orang yang bisa divaksinasi dengan aman. 

“Apakah orang yang pernah sakit bisa divaksinasi toh sudah ada antibodi yang bertahan lama. Apakah antibodi yang sudah ada, kemudian orang tersebut terpapar apakah divaksin aman saja. Itu harus menunggu uji fase tahap 3,” kata Pratiwi. 

Pratiwi menyebutkan uji fase tahap 3 ini diprediksi akan selesai pada akhir tahun 2020 ini. Meski begitu, pemerintah sudah harus mempersiapkan perencanaan produksi vaksin COVID-19. 

“Seolah-olah vaksin itu datang di November kita segera disuntik belum bisa karena proses perizinan saja memerlukan kajian cukup lama,” jelas dia.

LEAVE A REPLY