Ilustrasi kantor polisi. Foto: Harian Singgalang

IDNEWS.CO.ID – Pengamat terorisme dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak mengatakan kalau tidak aneh jika ada pelaku terorisme melakukan aksinya di kantor kepolisian di berbagai daerah di Indonesia.

“Dikarenakan sejak 2010 itu lebih dari 70 persen serangan teroris itu memang mengarah aparat polisi atau kantor-kantor polisi,” kata Zaki Mubarak pada Sabtu (16/11/2019).

Tetapi, berdasarkan hasil pengamatannya, perkara pelaku terorisme pada tempat beribadah, gereja, dan yang lain itu cuma sedikit dalam beberapa tahun terakhir.

Seperti pada terjadi pada perkara pelaku terorisme bom bunuh diri M Syarif, yang melakukan aksinya di kantor masjid kepolisian Cirebon, Jawa Barat. “Yang dibidik bukan masjidnya namun polisinya,” tangkisnya.

Setelah itu, beberapa bulan terakhir semisalnya insiden aksi serangan intimidasi di wilayah Wonokromo dengan tujuan kantor Mapolsek, lalu terakhir di Mapolres Kota Medan, Sumatera Utara.

Dia menjelaskan kalau mereka yang melakukan aksi terorisme atas fundamen doktrin kalau jihad ialah fardu ain, karenanya perlu untuk umat muslim untuk jihad ke Suriah dan ke Irak dengan Daulah Islamiyah.

Bila mereka tidak dapat jihad ke Suriah dan Irak, karena masalah finansial, masalah imigrasi yang terhalang dan lain-lainnya, mereka perlu melakukan amaliyah jihadnya di negara masing-masing.

Karenanya, sejak tahun 2014 sampai 2016, para jihadis Indonesia memiliki potensi yang oke dan ideologi yang kuat, bahkan ada ratusan sudah pergi ke Suriah dan Irak. Terkecuali itu, lebih dari 700 jihadis yang tempur disana dan hampir segalanya mati yang masuk dengan ISIS.

“Yang ada ialah jihadis-jihadis yang kemampuan kurang dan sumber daya benar-benar kecil karena yang miliki keahlian tinggi dan ideologi kuat itu ada pada Suriah dan di penjara,” tangkisnya. (ndi)

LEAVE A REPLY