Ilustrasi garis polisi Foto: Bening.Media

IDNEWS.CO.ID – Satwa langka yang hidup secara liar memperoleh perlindungan oleh negara. Hal itu dipayungi oleh berbagai peraturan yang berlaku saat ini.

Kelestarian kehidupan mereka diperlukan pengawasan dan perawatan yang baik, sampai-sampai dapat menaikkan jumlahnya populasinya. Lantaran, tumbuhan dan satwa langka merupakan tanggung jawab bersama.

Belakangan ini sejumlah kasus satwa langka kerap terjadi di Propinsi Riau. Dimulai dengan hadirnya sejumlah harimau Sumatera, gajah Sumatera, dan sejumlah perkara kematian satwa dilindungi.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono pada Minggu (8/12/2019) menjelaskan, udah terjadi penambahan kematian satwa yang relevan pada 2019.

Yang menimbulkan utamanya yakni adanya perselisihan dengan manusia, dan pengejaran satwa liar. Salah satunya model pengejaran satwa liar di Propinsi Riau adalah pemasangan jerat dalam kawasan hutan sebagai habitat dari satwa liar.

Alasannya, menempatkan jerat untuk babi hutan, tetapi kebanyakan yang berubah menjadi korban jerat yakni satwa liar dilindungi undang-undang. Seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Beruang (Helarctos malayanus), Tapir (Tapirus indicus), dan jenis yang lain.

Dalam tahun 2018-2019, Gajah Sumatera yang terkena jerat empat ekor, Harimau Sumatera tiga ekor, Beruang dua ekor, dan Tapir dua ekor, seluruhnya terjadi dalam kantong Giam Siak Kecil, Kerumutan dan Zamrud.

Berkaitan permasalahan ini dan jumlah jerat dalam kawasan hutan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau bekerja bersama dengan Direktorat Mencegahan dan Penyelamatan Rimba dan CIWT UNDP melangkah cepat melakukan operasi jerat di kawasan konservasi dan kawasan hutan di sekitarnya di wilayah kerja Bidang KSDA Daerah 1 dan 2.

Operasi jerat ini bertujuan untuk bersihkan jerat-jerat yang terpasang dalam kawasan hutan dan sekitarnya, meminimalisasi kematian satwa liar, dan pencegahan pengejaran.

Operasi sapu jerat sudah dilakukan sejak 25 November sampai 7 Desember 2019. Operasi jerat ini cukup efisien dan diketahui model jerat yang kian beragam.

Sekitar 170 jerat (sementara) ditemukan di Lanscape Kerumutan Utara Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan, Kerumutan Selatan Kecamatan Kuala Cinaku Indragiri Hulu, Giam Siak Utara Kecamatan Talang Muandau, dan Bengkalis.

Lantas ada juga di Giam Siak Selatan Kecamatan Sungai Mandau, Siak, Zamrud, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, dan sejumlah tempat yang lain.(ndi)

LEAVE A REPLY