IDNEWS.CO.ID – Iran mengecam keras langkah Amerika Serikat yang dinilai berikan support buat para “pembuat rusuh” dalam sebuah pengakuan yang dikeluarkan Minggu (17/11/2019) malam waktu ditempat. Protes terjadi selama dua hari di republik Islam itu mengejar kenaikan harga bahan bakar.

Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan jika faksinya bereaksi pada “pengakuan support dari Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada sekelompok pembuat rusuh di sejumlah kota di Iran dan mengkritik keras support dan kalimat yang mengintervensi.”

Lebih dari 1.000 orang diamankan setelah protes di Iran yang menyebabkan sekitar 100 bank dibakar, demikian laporan kata kantor berita Iran, Fars. Setidaknya dua orang meninggal dalam keonaran di hari Minggu (17/11). Jumlahnya tentunya korban jiwa secara seluruh masih belum jelas.

Kantor berita Fars, yang dikenal dekat sama Pengawal Revolusi Iran, mengatakan jika sekitar 87.000 orang telah melakukan protes di Teheran dan di berbagai kota lain.

Dalam sebuah cuitan di social media Twitter pada Sabtu (16/11/2019), Menteri Luar Negeri AS Pompeo mengatakan jika “Amerika Serikat bersamamu.”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi mengkritik komentar ini. “Beberapa orang bermartabat di Iran tahu benar jika pengakuan munafik sesuai itu tidak berisi simpati yang ikhlas,” demikian tutur Mousavi seperi diambil dari pengakuan itu. “Tindakan kelompok pembuat rusuh dan pelaku sabotase yang dapat dukungan oleh orang sesuai itu (Pompeo) tidak sesuai dengan prilaku beberapa orang Iran yang arif,” tutur Mousavi.

Pengakuannya pun mengkritik “tekad jelek” Washington atas ketentuan mereka menetapkan kembali sangsi pada Teheran setelah penarikan diri AS dari persetujuan nuklir Iran tahun 2015.

Keonaran terjadi tidak lama setelah pemerintah memberitakan akan menambah harga bahan bakar lebih dari 50 persen di hari Jumat (15/11/2019). Biarpun harga bahan bakar di Iran masih merupakan yang paling rendah di dunia, kenaikan ini dinilai sangatlah memberatkan setelah sebelumnya perekonomian Iran dirundung inflasi, resesi, dan sangsi AS.

Koneksi internet ditutupi

Pemerintah Iran pun menetapkan blokade internet secara nasional mengejar keonaran di semua negara itu. Pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bela langkah itu sekalian mempersalahkan “lawan” Iran atas terjadinya kekerasan itu.

Kementerian Intelijen Iran mengatakan mereka telah mengidentifikasi para faksi yang ada dibalik keonaran ini dan telah dilakukan “tindakan yang tepat” pada mereka. Pemerintah pun menetapkan pemadaman internet selama 24 jam, dengan konektivitas turun jadi cuma 7 persen pada Sabtu malam, menurut grup pemantau NetBlocks.

“Problem yang sedang terjadi yakni yang paling parah yang terdaftar di Iran sejak Presiden Rouhani berkuasa, dan pemutusan paling parah dalam soal kompleksitas tehnis dan luas yang pernah dicari oleh NetBlocks di negara mana juga,” tutur kelompok itu.

Di social media Twitter, para petinggi AS juga bereaksi atas pemutusan koneksi internet ini. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus mengatakan: “Kami mengutuk usaha penutupan internet. Biarkanlah mereka bicara!”

Ada “ketaksamaan arahan”

Dalam pidatonya di televisi Iran di hari Minggu, Pemimpin Paling tinggi Iran Ali Khamenei mendukung langkah kenaikan harga bahan bakar ini. Pada saat yang sama dia mengatakan jika ia “bukan ahli dan ada ketaksamaan arahan” terkait kenaikan BBM.

Ia pun mempersalahkan tindakan protes yang berakhir kekerasan ini terhadap beberapa musuh Iran dan partisan almarhum Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang diusir dari negara itu 40 tahun lalu.

Duta Besar AS untuk Uni Emirat Arab, John Rakolta, mengatakan rakyat Iran “mengidamkan kebebasan,” akan tetapi dia menekankan jika Washington tidak mendukung pergantian rezim.(ndi)

LEAVE A REPLY