IDNews.co.id – Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman mengatakan dukungan pemerintah di ajang SEA Games 2017 kurang maksimal, sehingga persiapan kontingen Indonesia yang tinggal 2 bulan lagi akhirnya terkendala. Hal itu khususnya untuk melakukan try out dan training camp ke luar negeri.

“KONI sebagai pembina atlet hanya bisa mendukung. Sementara dana pembinaan datangnya dari pemerintah. Sayangnya selama ini pemerintah pusat kurang memperhatikan kebutuhan atlet dalam mempersiapkan diri menuju SEA Games Kuala Lumpur, Malaysia Agustus mendatang. Kami pun akhirnya meragukan kontingen Indonesia bisa berprestasi karena minimnya anggaran,” kata Tono Suratman di sela-sela acara berbuka puasa bersama KONI Pusat dan stake holder olahraga di Jakarta, kemarin malam.

Tono menegaskan, seharusnya pemerintah sadar bahwa SEA Games adalah kegiatan multi event paling bergengsi untuk tingkat regional, apalagi ini menjadi jembatan ke Asian Games 2018. Oleh sebab itu, pemerintah harus konsen memberi dukungan terhadap pembinaan olahraga secara nasional.

“Filosofi olahraga itu harus dijalankan bersama antara pemerintah dan pelaku olahraga itu sendiri.Kalau tidak, bagaimana olahraga Indonesia bisa berprestasi. Saya melihat ada kendala ketersediaan anggaran dalam mempersiapkan atlet,” ungkapnya.

Pihak KONI Pusat juga sudah menyampaikan hal ini ke Kasatlak Prima bahwa pihaknya ada keraguan. Namun bukan para atlet tidak berlatih. Mereka berlatih, tetapi dengan dukungan pokok yang salah satunya adalah anggaran kurang maksimal. Baginya kalau kebijakan sudah dilakukan, sarana sudah ada, tetapi anggaran untuk try out, lalu perlengkapan belum terdukung ini yang menjadi pokok persoalan.

“Saya berharap ke depan kucuran anggaran untuk membiayai pelatnas menghadapi berbagai multievent lebih lancar lagi. Kalau kita datang kemudian tidak berprestasi tentunya masyarakat olahraga prestasi akan merasa malu. Malu kalau dengan prestasi hanya 5 besar saja, padahal sebenarnya kita tidak kalah dari negara-negara lain. Maka dari itu seluruh pemangku kepentingan olahraga nasional harus bersinergi,” jelasnya.

Wakil Ketua Umum KONI Pusat, Suwarno menilai persiapan para atlet Indonesia menuju SEA Games 2017 relatif banyak hambatan. Mulai dari pelaksanaan pelatnas yang berpindah-pindah, perubahan sistem di Kempora dalam pencairan uang saku atlet, hingga kewenangan dalam perizinan pemberangkatan atlet untuk melakukan uji coba ke luar negeri.

“Contohnya saja pelatnas yang berpindah pindah karena GBK sedang direnovasi untuk persiapan Asian Games 2017. Cabor angkat besi tadinya di Jalak Harupat terus pindah ke Cibubur lalu balik lagi ke Jalak Harupat. Lalu uang saku, karena ada perubahan sistem di Kempora. Kalau dulu hanya ada satu satuan kerja, sekarang ada lima sampai enam satuan kerja,” ucap Suwarno.

Hal ini jelas mengakibatkan keterlambatan anggaran konsumsi, uang saku dan kebutuhan lain. Kemudian sekarang kalau mau uji coba, harus seizin Setneg terlebih dahulu. Dengan banyaknya hambatannya ini, rasanya sulit untuk meraih prestasi terbaik di SEA Games 2017.

“Bisa bertahan di peringkat kelima besar saja sudah bagus. Apalagi kita tahu sesuai dengan rule and chapter dan ajang SEA Games biasanya selalu didominasi oleh cabor-cabor pilihan tuan rumah,” ucap dia.

Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, Gatot S Dewa Broto pun mengatakan kekurangan peralatan yang lain akan dipenuhi sampai pertengahan Juli. Mengenai peralatan latihan dan tanding saat ini telah dilakukan proses pengadaan prioritas cabang olahraga yang dipertandingkan di SEA Games 2017. Pihaknya mengklaim sejauh ini 17 cabang olahraga sudah menerima peralatan latihan dan tanding. (ndi)

LEAVE A REPLY