IDNews.co.id – Tulisan Afi Nihaya Faradisa (19) soal ‘Warisan’ mendapat banyak tanggapan dari pengguna Facebook, salah satunya dari Sugiyanto Emik. Sugiyanto memuji beberapa bagian dari tulisan Afi, namun juga mengkritik beberapa bagian lainnya. Menurut Sugiyanto, Afi tidak perlu mempertentangkan kebenaran agama Islam dan agama-agama lainnya.

Sugiyanto, ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru.

Berikut ini tulisan Sugiyanto Emik;

Tulisan Afi Nihaya yang berjudul “Warisan” bagus karena menyajikan unsur ajaran rahmatan lilalamin. Begitu memang prinsif ajaran Islam secara umum, yaitu memberikan kebaikan dan kedamaian kepada seluruh alam. Tidak hanya kepada manusia yang berbeda agama dan lainnya. Tapi juga kepada makhluk yang ada di muka bumi baik tumbuhan, hewan dan lainnya.

Bahkan terhadap makhluk jin, iblis dan lainnya pun kita harus tetap bersikap baik yaitu dengan cara tidak menganggu atau mencampuri urusan meraka. Itulah prinsip Islam dengan konsep ajaran rahmatan lilalamin.

Karena bila kita (manusia) membuat kerusakan atau menganggu makhluk yang ada di muka bumi ini maka akibatnya akan fatal terhadap diri kita dan alam sekitar. Itulah sebabnya kita harus berbuat baik kepada makhluk ciptaan Tuhan YME, khususnya kepada sesama manusia. Perbedaan agama dan lainnya  bukanlah  alasan untuk kita saling bermusuhan, menyerang dan bahkan saling melukai.

Pada kontek ini apa yang ditulis Afi Nihaya “Warisan” tepat karena pada prinsipnya semua agama apa pun mengajarkan kebaikan. Bila saja tulisan Afi Nihaya itu konsisten pada prinsip ajaran Islam rahmatan lilalamin maka itu sangat bagus dan  patut diacungi jempol. Namun yang tejadi tidak demikian, tulisan Afi juga masuk  masuk pada ranah keyakinan kebenaran agama. Disinilah hal yang kurang tepat itu terjadi.

Seharusnya Afi tidak mempertentangkan tentang keyakinan kebenaran agama Islam dan agama lainnya. Dalam ajaran Islam sudah jelas dan gamblang ditegaskan dalam kitap suci Al Quran bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan Allah SWT hanya Ridho  Islam menjadi agama untuk umat Islam. Ini mutlak dan wajib diyakini oleh umat Islam dan tidak boleh ditawar-tawar lagi.

Hanya saja kepada agama lain kita diajarkan tidak boleh memaksakan kebenaran agama Islam. Ajaran Islam tegas mengajarkan umat Islam menghormati keyakinan kebenaran agam lain yaitu dengan cara, “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.

Lebih lanjut bila kita ingin mendalami lebih jauh lagi tentang kebenaran agama  Islam, maka segala sesuatu hal yang terkait dengan kebenaran agama Islam itu bisa diuji kebenarannya. Dibutuhkan kecerdasan tinggi dan ilmu yang dalam untuk melakukan pengujian tentang kebenarannya.

Tidak semua orang bisa melakukan pengujian kebenaran agama Islam. Pada tulisan ini saya tidak ingin mengatakan bahwa hanya agama Islam lah yang paling benar, sebab  saya wajib menghormati keyakinan kebenaran agama lain. Namun ada satu hal yang ingin saya sampaikan bahwa agam Islam itu terbuka untuk diuji kebenarannya oleh siapaun. Tentunya kepada ahli agama yang bisa membuktikan tentang kebenaran ajaran agama Islam.

Dan sebagai penutup, ingin saya katakan bahwa hanya orang-orang yang terus berpikir dan berpikirlah yang akan menemukan kebenaran agama yang sejati. Artinya akal yang kita punya akan mampu menuntun kita menemukan kebenaran agama yang menurut kita paling benar. (*)

LEAVE A REPLY