Ilustrasi

IDNews.co.id – Ini kali keempat dalam 4 bulan terakhir, KPU mengalami kekalahan dalam sengketa di Bawaslu. Sebelumnya, medio 2017, KPU kalah sengketa di Bawaslu terkait dengan proses pendaftaran parpol ke KPU dan sengketa administrasi Partai Garuda dan Berkarya.

Kemudian, di tahun 2018 ini, kalah di Sumut dan hari ini kalah sengketa di Bawaslu melawab PBB. Kita tentu terkejut sekaligus bertanya-tanya. Apakah ada masalah dalam kinerja KPU sehingga kalah beruntun dalam sengketa di Bawaslu.

Pengamat Politik Ray Rangkuti.

Saya rasa situasi ini tidak boleh dianggap sepele oleh KPU. Kekalahan demi kekalahan mereka tentu saja akan dapat berakibat pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan mereka dalam menyelenggarakan hajatan pemilu dan pilkada. Jika tak ada perubahan signifikan, hasil pemilu atau pilkada akan rawan dan mudah mendapat gugatan.

Ujung dari semua hal ini akan dapat menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat pada professionalisme, netralitas dan kemandirian KPU. Pertengahan tahun ini akan ada hajatan pencoblosan dalam pilkada serentak di 171 daerah.

Bersamaan dengan itu, tahapan pelaksanaan pileg dan pilpres serentak akan dilaksanakan. Sulit membayangkan kesuksesan pemilu dan pilkada dengan kemampuan KPU yang terus menerus kalah dalam sengketa.

Tak terbayang bagaimana KPU harus meladeni berbagai gugatan sengketa baik di Bawaslu, MK atau PTUN jika kemampuan pengelolaan dan penyelenggaraan pemilu/pilkada oleh KPU tak meningkat signifikan.

Ajang rekrutmen anggota KPU yang saat ini tengah berlangsung, benar-benar harus dipantau dan dilaksanakan dengan tepat oleh KPU untuk mendapatkan anggota KPU dengan tingkat kemampuan penyelenggaraan yang baik. Kekalahan 4 kali dalam sengketa di Bawaslu lebih dari cukup untuk sinyal perlunya perbaikan internal dan rekrutmen anggota KPU. (*)

LEAVE A REPLY