Ilustrasi

IDNEWS.CO.ID – Sebuah kesatuan yang merupakan bagian dari aparat keamanan Sudan memerkosa perempuan selagi membubarkan para demonstran di luar markas besar militer 12 hari lalu. Demikian kata sejumlah saksi mata kepada BBC.

Pejabat militer membantah tuduhan tersebut, namun Khalid (bukan nama sebenarnya) menceritakan kepada BBC tentang serangan seksual yang dia saksikan saat penindakan brutal pada hari itu.

Tatkala penembakan berlangsung sesaat setelah salat subuh, dia berlari mencari tempat berlindung di bangunan sekitar bersama demonstran lainnya.

Namun, ketika dua pemuda ini bersembunyi di sebuah ruangan di lantai atas, mereka mendengar suara jeritan. Didorong rasa keingintahuan, mereka mengintip ke bawah ke arah anak tangga.

“Kami melihat enam serdadu memerkosa dua gadis,” ujar Khalid kepada BBC.

Khalid dan temannya berupaya mengintervensi dengan cara berteriak `pergi sana, pergi” ke arah para serdadu Pasukan Pendukung Cepat (RSF) yang lebih populer dengan sebutan Janjaweed.

Alih-alih menyudahi aksi mereka, para serdadu itu malah melepaskan tembakan ke Khalid dan temannya.

`Dia berupaya memerkosa saya`

Saat kedua pemuda itu akhirnya berhasil menuruni anak tangga, para serdadu sudah tidak di sana. Yang ada, perempuan muda dalam keadaan kalut.

Khalid, temannya, dan dua perempuan itu merupakan bagian dari kerumunan massa yang menggelar demonstrasi di luar markas militer di ibu kota Sudan, Khartoum.

Demonstrasi itu berujung pada kudeta pada awal April yang melengserkan Omar al-Bashir dari kursi presiden setelah hampir 30 tahun berkuasa. Namun, para demonstran tetap melancarkan unjuk rasa guna menuntut agar pemerintahan diserahkan ke sipil.

“Kedua perempuan itu tidak bicara apa-apa. Mereka hanya menangis dan menjerit, menangis dan menjerit, menangis dan menjerit. Saya berusaha menenangkan mereka,” kata Khalid.

“Saya berusaha membuat mereka lebih baik, tapi mereka tidak berhenti berteriak,” imbuhnya.

Khalid dan rekannya memutuskan membawa perempuan-perempuan itu ke sebuah masjid agar mereka bisa lebih aman dan ada yang mengurus sementara kedua pria itu berupaya mencari tahu apakah mereka bisa lolos dari kawasan itu mengingat gas air mata dan peluru terus ditembakkan.

Akan tetapi, begitu keluar dari Masjid Khalid ditangkap sekelompok serdadu Janjaweed dan akhirnya bertemu dengan salah satu prajurit yang dilihatnya memerkosa kedua perempuan.

“Dia mendorong saya ke tanah dan membawa sebatang baja yang panjang,” tutur Khalid.

Pada saat itu, menurutnya, para serdadu membawanya ke sebuah ruangan di lantai atas gedung tempat pemerkosaan berlangsung.

“Mereka berupaya melepaskan baju saya dan mencoba memerkosa saya. Saya berteriak sekeras mungkin agar ada orang yang datang.

“Setelah tiga atau empat kemudian ada tembakan di lantai bawah. Mereka melihat sekeliling ruangan dan berkata `lebih baik kita keluar`.”

Khalid kemudian berlari dan berhasil kabur walaupun dipukuli beberapa kali oleh serdadu Janjaweed dalam perjalanan ke rumah.

`Informasi palsu untuk memperdaya khalayak dunia`

Sulit mendapat gambaran seutuhnya mengenai dugaan kekejian yang berlangsung ketika ribuan serdadu Janjaweed berhadapan dengan demonstran mengingat sambungan internet diputus dan orang-orang takut berbicara.

Menurut kubu oposisi, lebih dari 100 orang tewas dalam aksi kekerasan, sebanyak 40 di antara mereka dilemparkan ke sungai Nil.

Tidak diketahui berapa banyak orang yang diperkosa. Sejumlah rumor yang beredar menyebutkan bahwa pemerkosaan berlangsung di sejumlah tempat dan terus berlangsung selagi Janjaweed yang namanya tersohor lantaran diduga melakukan kekejian di Darfur, negara bagian Blue Nile, dan Pegunungan NubaĆ¢ berpatroli di sekeliling kota. (ndi/bbc)

LEAVE A REPLY