IDNEWS.CO.ID – Keputusan Presiden Donald Trump untuk menarik pasukan AS dari Suriah Utara menimbulkan kekhawatiran sekutunya di sana, para tentara Kurdi. Sebab sebelumnya dikatakan pasukan AS akan tetap berada di sana untuk mencegah pasukan Turki menyerang mereka.

Salah seorang warga Tal Abyad, Ali Osman,  “Seperti biasa, Amerika mengkhianati kami dan sekali lagi menusuk kami dari belakang.”

Kepastian perlindungan dari AS sebelumnya telah membuat pasukan Kurdi membongkar pertahanan di bagian utara. Warga lokal khawatir mereka akan mengalami nasib yang sama seperti warga Suriah lainnya, yang sebelumnya juga diserang oleh Turki.

Warga lain di Tal Abyad, Amina Osman mengatakan,”Orang-orang tewas. Perempuan diculik. Banyak orang melarikan diri dari rumah mereka. Turki bertindak secara tidak manusiawi di sana dan kami khawatir hal yang sama akan terjadi di sini.”

Pada Selasa (8/10/2019) malam, Turki menambah pasukannya di perbatasan Suriah. Konvoi militer yang terdiri dari kendaraan lapis baja pengangkut pasukan dan tank terlihat bergerak menuju kota Akcakale, yang dekat dengan perbatasan Suriah.

Turki memperkuat posisi militernya di perbatasan Suriah setelah menyatakan siap melancarkan operasi yang bisa menyasar milisi Kurdi, sekutu lama AS.

Turki menganggap milisi Kurdi, yang mendominasi Pasukan Demokratik Suriah (SDF), sebagai teroris. Adapun penarikan mundur pasukan AS dianggap membuka jalan bagi serangan terhadap milisi Kurdi.

Gedung Putih hari Minggu (6/10/2019) mengumumkan penarikan tentara AS dari bagian utara Suriah ketika Turki bergerak masuk dengan kekuatan ofensif militer. Kongres mengecam keras kebijakan itu dan meminta klarifikasi dari Pentagon.

Senator faksi Republik Lindsey Graham mencuit “dengan meninggalkan Kurdi, kita telah mengirim sinyal paling berbahaya bahwa Amerika bukan sekutu yang dapat dipercaya.”

Trump tampaknya sedikit surut langkah dari keputusannya itu, dengan mengancam akan memberlakukan sanksi “menghabisi” perekonomian Turki jika melakukan sesuatu “di luar batas.” (ndi)

LEAVE A REPLY