Orangtua dan anak. Foto: Erabaru

IDNews.co.id – Menyusul aksi teror di Surabaya, sebagian waktu itu yang melibatkan satu keluarga bersama dengan anaknya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia mengatakan kalau alur pengasuhan orang-tua yang ada sekarang butuh dilihat ulang.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia juga menyesalkan, ada tingkah laku orang-tua yang melibatkan anak untuk turut juga dalam aksi terorisme.

” Ini kita sesalkan karena keluarga yang harusnya jadi pelindung utama anak, tapi malah menjerumuskan, dan masih ada pula anak yang jadi korban. Makanya butuh direview (dilihat) kembali lagi depan pada alur pengasuhan orang-tua, ” ungkap Komisioner KPAI, Retno Listyarti saat didapati di kantornya pada Konfrensi Pers di KPAI.

Wanita yang praktisi pendidikan juga Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), ini mengatakan, tidak cuma meninjau kembali manfaat pengasuhan dari orang-tua, keterlibatan orang-orang, sekolah dan lingkungan paling dekat juga jadi perlu untuk mengindentifikasi tumbuhnya paham-paham radikalisme.

” Itu jadi perlu jika indoktrinasi terjadi di rumah. (Dari sekolah), contoh anak tak ingin hormat bendera, menyanyi Indonesia Raya, itu mesti ditelaah. Apakah ideologis atau turut -ikutan. Lagi manfaat keluarga begitu perlu, ” kata dia.

Selain itu, Retno juga meminta pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan beberapa langkah antisipatif dan pencegahan dengan masif melalui beragam model pendekatan. Ini, kata dia, untuk mempersempit ruangan gerak terorisme sejak dini.

” Di pihak beda, masalah terorisme yang melibatkan anak butuh didalami dengan komprehensif termasuk meyakinkan inisiator utama dibalik peristiwa pelibatan anak, supaya dihukum seberat-beratnya, ” kata dia. (ndi)

LEAVE A REPLY