Virus corona
Virus corona

IDNEWS.CO.ID – “Bencana,” “petaka,” dan “efek yang menghancurkan” – begitulah ungkapan yang digunakan oleh para pemimpin Eropa untuk menggambarkan konsekuensi bila negara-negara Eropa memberlakukan lockdown (penguncian) kedua.

Untuk menahan penyebaran COVID-19 pada musim semi tahun ini, aktifitas publik di seluruh Eropa hampir sepenuhnya dihentikan. Namun saat musim panas, banyak tempat melonggarkan aturan pembatasan tersebut. Maka yang terjadi adalah tingkat infeksi COVID-19 di hampir setiap negara Eropa semakin meningkat.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Eropa melaporkan antara 40.000 dan 50.000 kasus baru COVID-19 setiap harinya. Peningkatan itu bukan hanya didasari karena tes yang lebih luas.

Angka-angka kasus dari September “seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua,” kata direktur regional WHO untuk Eropa, Hans Kluge.

Kluge menambahkan, jumlah infeksi mingguan bahkan melebihi yang dilaporkan pada fase pertama puncak pada Maret.

Dengan meningkatnya jumlah infeksi, muncul kekhawatiran atas penguncian nasional kedua. Lockdown ketat di Spanyol dan Prancis yang diberlakukan awal tahun, memicu penurunan ekonomi secara besar-besaran. Namun, saat ini angka kasus COVID-19 kedua negara ini kembali melonjak.

Meski begitu, Prancis berharap untuk dapat menghindari penguncian nasional lanjutan selama mungkin. Saat ini pihak berwenang Prancis telah memperketat pembatasan di kota-kota yang terkena dampak paling parah seperti Paris, Marseille, Bordeaux, Nice, dan Toulouse.

Prancis melarang pertemuan publik, membatasi jam operasi bar dan kunjungan ke panti jompo. Warga Paris dan beberapa daerah lain juga diwajibkan menggunakan masker saat keluar rumah.

Sementara itu, pada Senin (21/09), Madrid mulai memberlakukan pembatasan drastis. Di enam daerah dan tujuh kota di sekitar ibu kota Spanyol, orang hanya diperbolehkan meninggalkan rumah untuk keperluan: pergi bekerja, sekolah, berobat ke dokter, atau jika dipanggil oleh pengadilan. Tindakan pembatasan serupa telah diperintahkan di bagian lain negara itu, termasuk Mallorca.

Bila jumlah infeksi melebihi 1.000 kasus per 100.000 penduduk selama 14 hari terakhir, maka area perumahan bisa diberlakukan pembatasan ketat.

Itu adalah “angka yang sangat buruk” yang dapat memaksa pihak berwenang untuk bertindak, kata Isabel Ayuso, presiden regional Madrid.

“Kami ingin mencegah lockdown total, itu akan menjadi langkah mundur dan bencana bagi perekonomian kami,” kata Ayuso. “Jika kita semua mengikuti aturan baru, wilayah kita akan pulih dengan cepat,” tambahnya.

Konsekuensi ekonomi bila memberlakukan lockdown ketat kedua bukan hanya berdampak di daerah Eropa Selatan dan Barat. Di Jerman, asosiasi bisnis bahkan memperingatkan gelombang kebangkrutan.(ach)

LEAVE A REPLY