International Symposium Implant Dentistry VI di IICC Bogor

IDNEWS.CO.ID – Mahalnya peralatan kesehatan gigi khusunya implantologi atau gigi buatan dari produk impor masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Melihat kondisi ini, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dalam waktu dekat bakal membangun pabrik implan made in Indonesia. 

“Masalah implan, Indonesia sebagai pasar penjualan para distributor dari negara asing. Nah, kita agak prihatin dan kita akan upaya keras ke depan kami akan membuat pabrik terkait implantologi sehingga implan lebih murah,” kata Ketua Umum  PDGI Dr.drg.RM.Sri Hananto Seno,Sp BM(K), MM diwawancarai VIVA disela kegiatan ilmiah tahunan International Symposium Implant Dentistry VI di IPB Internasional Convention Centre (IICC), Bogor, 8-10 November. 

Seno menjelaskan, implan gigi merupakan pengganti gigi yang rusak atau hilang hingga menjadi kembali seperti semula. Menurutnya, bahan membuat implan tergolong mudah. Hanya saja, berkaitan dengan legalitas izin edar yang memakan waktu lama.

“Dalam waktu dekat kita ingin membuat perusahaan. Sudah ada kerja sama, kajian sudah ada, kajian Bappenas sudah ada, keahlian, dan sudah sepakat membuat implan made in Indonesia. Nantinya, semua kerusakan gigi bisa diganti dengan implan ini,” kata Seno. 

Lanjut Seno, sebagai negara pasar bebas, jika infrastruktur tidak siap maka perusahaan asing akan menyerang menyerbu pasar Indonesia. Tujuan pembangunan pabrik implan ini, kata Seno, agar masyarakat lebih terlayani karena kebutuhan akan implan terus meninggkat setiap tahunnya. 

“Saat ini, hanya tinggal legalitas formal saja serta izin edar karena hal ini membutuhkan waktu,” kata Seno.

Di tempat yang sama, Ketua Ikatan Peminat Kedokteran Gigi Implan Indonesia (IPKGI) drg. Rudi Wigianto, PhD, DFM, FISID mengatakan, membangun pabrik implan di Indoneaia banyak mengadapi regulasi yang sulit. Padahal dirinya sudah memiliki hak paten yang kini ada di perusahaan miliknya di Jepang. 

“Saya punya paten implan tapi saya jualnya di Jepang. Satu dipatenkan di Korea. Karena di sini saya harus jual ke mana? Izin edarnya susah di sini,” kata Rudi.

Untuk penjualan made in Indonesia ini juga jauh dari harga pasaran yang berkisar Rp1-2 juta. Sedangkan Indonesia, kata Rudi, menjual di kisaran Rp750 ribu dengan biaya produksi Rp400 ribu mengunakan material yang sama. Semakin diproduksi massal, maka harga semakin murah. 

“Indonesia menjadi sasaran delapan negara dengan 34 merek implan yang beredar. Dulu Eropa, sekarang harga, Korea lebih mulai masuk. Ada 200 pabrik implan di Korea,” kata Rudi.

Rudi menaparkan, Indonesia saat ini sudah memiliki prototipe dan jika sudah diproduksi massal maka bisa meng-cover implan untuk BPJS. Untuk mengawali pengadaan, pabrik akan mengandeng investasi dan ahli teknologi dari Jepang. Sebab, Indonesia belum memiliki teknologi mencuci bahan implan yang aman digunakan dimulut.

“Saya sudah bekerjasama dengan Jepang, Insya Allah bulan depan ada pabrik sendiri. Kita akan segera membangun pabrik implan agar kita mampu bersaing dengan negara-negara lain serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang selama ini impor. Keuntungannya, kesempatan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan gigi tiruan yang nyaman jauh lebih tinggi,” papar Rudi.

Acara ilmiah yang dihadiri sekitar 500 orang dokter gigi dari seluruh Indonesia ini digagas oleh Ikatan Peminat Kedokteran Gigi Implan Indonesia (IPKGI) selama tiga hari. Sebanyak 15 pembicara dari delapan negara membahas tentang teknologi digital pada pembuatan gigi tiruan yang disangga oleh implan.

Kegiatan rutin setiap dua tahun ini merupakan bagian dari tanggung jawab profesi dalam menjaga dan meningkatkan kemampuan anggota IDGI dalam melayani masyarakat serta meningkatkan daya saing bangsa di era globalisasi khususnya dibidang kesehatan gigi.

LEAVE A REPLY