Oleh: Sugiyanto, Aktivis Senior dan Pengurus Gerakan Relawan Rakyat Adil Makmur (GERRAM) DKI Jakarta

IDNEWS.CO.ID – Berdasarkan survei Litbang Kompas pada 1 bulan sebelum hari H (Pemilu 17 April 2019), selisih Jokowi dan Prabowo 11,8 persen. Dengan perolehan Jokowi-Ma’ruf Amin 49,2 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 37,4 persen. Yang belum menentukan pilihan 13,4 (masih rahasia). Kondisi ini berbeda dibandingkan survei sebelumnya (Oktober 2018), Jokowi-Ma’ruf 52,6 persen dan Prabowo-Sandi 32,7 persen.

Artinya, kedua hasil survei mengalami penurunan untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf hingga 3 persen, sedangkan Prabowo-Sandi mengalami kenaikan hampir 5 persen. Dengan kata lain, lonceng kematian elektabilitas Jokowi-Ma’ruf berdering kencang. Bagi petahana, ini merupakan sinyal nyata ke arah kekalahan, apalagi elektabilitasnya di bawah 50 persen.

Sinyal kemenangan mengarah ke Prabowo-Sandi. Kecenderungan masyarakat akan memilih capres-cawapres yang berpeluang menang. Dengan kata lain, masyarakat cenderung pilih Prabowo-Sandi.

Terlebih masih ada 13,4 persen masyarakat yang masih menyembunyikan pilihannya dalam survei, sangat mungkin akan memilih Prabowo-Sandi. Begitu juga yang semula mendukung Jokowi-Ma’ruf, berpeluang mengalihkan dukungan kepada pasangan Prabowo-Sandi. Bisa dikatakan, peluang kemenangan Prabowo-Sandi makin melebar.

Kalau melihat trend kenaikan hasil survei tersebut, peluang kemenangan Prabowo-Sandi minimal 51 persen. Bahkan tidak menutup kemungkinan dengan adanya peralihan dukungan, bisa mencapai 58 persen untuk Prabowo-Sandi.

Melihat elektabilitas itu, tidak berlebihan bila GERRAM menyatakan ‘Selamat Datang untuk Pasangan Prabowo-Sandi’ dan ‘Selamat Tinggal Jokowi Selaku Petahana’. Pernyataan ini cukup beralasan.

Berdasarkan pengalaman dalam pesta demokrasi seperti Pilkada Jakarta 2017, ketika itu elektabilitas Anies-Sandi jauh di bawah pasangan calon lainnya. Namun, Anies-Sandi mengalami kenaikan elektabilitas secara terus menerus hingga mengalahkan petahana.

Bila mengalami penurunan elektabilitas, maka sulit untuk mendongkraknya kembali. Begitupun sebaliknya, yang mengalami kenaikan elektabilitas, maka akan terus mengalami kenaikan hingga di hari pencoblosan. (*)

LEAVE A REPLY