Ilustrasi; Peserta Pemilu 2019.

IDNews.co.id – Pernyataan Amin Rais soal adanya partai Allah dan Partai Setan adalah pernyataan serampangan yang terkesan lahir dari suasana hati yang putus asa. Dua kategori partai yang dimaksud, sekalipun sudah dibantah tidak berhubungan langsung dengan partai politik, tapi jelas sulit dipisahkan dari makna partai politik.

Pengamat Politik Ray Rangkuti.

Penyebutan PKS, Gerindra dan PAN sebagai partai Allah, dengan sendirinya menepis partai politik lain sebagai bukan partai Allah. Tak perlu berbelit untuk memahami kerangka berpikir demikian.

Kecuali, pernyataan itu dibuat umum, tanpa menyebut contoh partai yang masuk kategori partai Allah. Sebagaimana kaburnya pembilahan partai Allah dengan partai setan itu, makna keduanya juga sama kaburnya.

Amin Rais, sama sekali tidak menyebut kriteria yang ia maksudkan sebagai partai Allah atau partai setan. Hanya secara serampangan bernada putus asa, AR lalu memasukan tiga partai ke dalam partai Allah, dan tidak menyebut contoh seperti apa partai setan.

Dengan pernyataan serampangan seperti ini, sama sekali tidak membantu untuk meningkatkan kwalitas dan kedewasaan berdemokrasi kita. Alih-alih meningkatkan, yang ada adalah kegaduhan, perbincangan tanpa faedah dan lebih meningkatkan ketidaksukaan publik pada partai politik sekaligus meningkatkan suhu negatif suasana politik menjelang pemilu/pilpres serentak 2019 yang akan datang.

Amat disayangkan, AR nampaknya, lebih memilih jalan kontroversi dari pada edukasi. Memilih hingar bingar serampangan dari pada refleksi. Pernyataan-pernyataan yang rasanya bahkan tidak juga membantu partai yang didirikannya untuk meraih suara.

Sejatinya, makin dewasa usia demokrasi kita, yang dipertontonkan adalah kematangan, objektif, dan nalar kritis. Bukan sebaliknya, demokrasi makin matang, tetapi ada pelakunya yang nampak tak siap untuk lebih bijak, rasional dan dewasa.

Akhirnya, pernyataan serampangan bernada keputusasaan yang muncul. Di tengah makin tak kondusifnya suasana politik yang terlihat makin maraknya isu SARA, fitnah, caci maki, kebencoan baiknya para pemimpin justru membantu meredamnya. Mengarahkan makna demokrasi dan tujuan berpemilu kita. Yakni mendapatkan elit politik yang amanah, berdedikasi, dan anti korupsi. (*)

LEAVE A REPLY