Ilustrasi wanita menangis.

IDNEWS.CO.ID – Proses melahirkan merupakan momen penting bagi setiap perempuan yang ingin memiliki anak. Oleh karenanya, perawatan dan perlakuan yang baik mesti didapatkan oleh setiap perempuan melahirkan.

Namun, bukti baru dari studi yang dilakukan oleh badan kesehatan dunia, WHO, yang diterbitkan hari ini, Rabu, 9 Oktober 2019 di Lancet, menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga perempuan di empat negara berpenghasilan rendah mengalami penganiayaan selama persalinan di fasilitas kesehatan.

Perempuan muda dan kurang berpendidikan ditemukan sebagai yang paling berisiko mengalami penganiayaan. Mereka kerap mendapat pelecehan fisik dan verbal, stigmatisasi dan diskriminasi, prosedur medis yang dilakukan tanpa persetujuan mereka, penggunaan kekuatan selama prosedur, dan ditinggalkan atau diabaikan oleh petugas kesehatan.

Studi yang dilakukan di Ghana, Guinea, Myanmar dan Nigeria, menemukan bahwa 838 (42 persen) dari 2.016 perempuan mengalami pelecehan fisik atau verbal, stigmatisasi atau diskriminasi. Sementara itu 14 persen di antaranya mengalami pelecehan fisik, paling sering ditampar, dipukul atau ditinju.

Ada juga tingkat yang tinggi dari operasi caesar non-konsensual, episiotomi (pemotongan bedah dibuat pada pembukaan vagina saat melahirkan) dan pemeriksaan vagina.

“Pedoman WHO mempromosikan perawatan bersalin yang penuh hormat untuk semua perempuan, yang merupakan perawatan yang menjaga martabat, privasi dan kerahasiaan, memastikan kebebasan dari bahaya dan penganiayaan, dan memungkinkan pilihan berdasarkan informasi dan dukungan terus menerus selama persalinan dan melahirkan,” demikian tulis WHO dalam siaran pers yang diunggah di situs resmi mereka.

Sebagai informasi, studi ini mengamati 2.016 perempuan selama persalinan dan melahirkan di Ghana, Guinea, Myanmar. Wawancara juga dilakukan dengan 2.672 perempuan setelah kelahiran, menemukan tingkat perlakuan yang serupa dengan pengamatan langsung.

Di antara perempuan yang diamati oleh para peneliti, 35 (13 persen) kelahiran caesar dilakukan tanpa persetujuan perempuan, seperti juga 190 dari 253 episiotomi (75 persen). Pemeriksaan vagina terjadi tanpa persetujuan dalam 59 persen kasus (2.611 dari 4.393 pemeriksaan).

Selain pelecehan fisik, 752 (38 persen) wanita diketahui mengalami tingkat pelecehan verbal yang tinggi, paling sering diteriaki, dimarahi dan diejek. 11 perempuan mengalami stigmatisasi atau diskriminasi, biasanya mengenai ras atau etnis mereka. (zho)

LEAVE A REPLY