IDNEWS.CO.ID – Kabut asap yang sudah tampak sejak tiga bulan terakhir benar-benar merubah kesehatan manusia dan orang utan. Waktu ada kabut asap, partikel debu, dan karbon tersisa pembakaran bisa masuk ke aliran pernapasan dan menyebabkan reaksi alergi yang dapat mengakibatkan infeksi seperti bronkitis dan pneumonia gara-gara menyusutnya mode kekuatan badan.

Jamartin Sihite, Ketua Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) mengatakan sampai saat ini sudah ada 37 orang utan di yayasannya yang terkena penyakit infeksi aliran pernafasan atas (Ispa). Dari jumlahnya itu, sekitar 31 salah satunya yaitu orang utan muda berumur dibawah empat tahun.

“Telah sekitar tiga bulan terkena kabut asap. Bila manusia dapat gunakan masker, tetapi bila orang utan ‘kan tidak dapat. Jadi tidak bertanya-tanya bila mereka sakit, DNA-nya hampir sama, penyakitnya sama juga dengan manusia,” kata Jamartin saat dihubungi oleh Deutsche Welle Indonesia melalui sambungan telpon, Jumat (20/9/2019).

Jamartin yang saat dihubungi sedang ada di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, mengatakan tidak ada tempat yang terbakar di kawasan pusat rehabilitasi orang utan yang diurus oleh Yayasan BOS, baik yang ada di Kalimantan Timur atau Kalimantan Tengah.

Tapi dia menyatakan api pernah membakar minimal 80 hektare tempat gambut di sekitar area rehabilitasi. Waktu ini, pungkasnya, api telah bisa dipadamkan dan masih dalam sesi pendinginan tempat.

Di Program Konservasi Mawas, Pusat Rehabilitasi Orangutan di Nyaru Menteng dan di Samboja Lestari club dari BOS sekarang melakukan patroli dan pengawasan pada kemungkinan timbulnya titik api di semuanya wilayah kerja sekalian menghindar kemungkinan kebakaran. Hingga saat ini belum ada evakuasi orang utan yang terancam kebakaran hutan dan tempat.

Berkaitan tingginya kapasitas bahaya kebakaran, Jamartin mengatakan faksinya telah membuat sekitar 30 buah sumur bor di wilayah tempat gambut di sekitar ruang agar dapat menguasai api dengan cepat sampai ada pertolongan kelanjutan.

Terdorong mendukung?

Saat ditanya apa yang paling diperlukan teamnya dalam melawan keadaan seperti saat ini, Jamartin mengatakan para staf yang bekerja butuh masker untuk dimanfaatkan dalam aktivitas keseharian.

“Tidak hanya itu kami diperlukan vitamin untuk orang utan, ini pula sama juga dengan vitamin untuk manusia. Sebab bila orang utan keadaan badannya sehat ia dapat lebih tahan pada pergantian ikllim dan efek lingkungan sekitar,” kata Jamartin.

Paling akhir, yang diperlukan yaitu pompa air bertekanan tinggi untuk mematikan api di tempat gambut.

“Sebab kebakaran tempat gambut terjadi dibawah, jadi dari atas tampak oke tetapi ternyata dibawah masih ada bara api. Lantaran itu diperlukan pompa air yang bertekanan tinggi biar dapat sampai ke bawah untuk mematikan api,” kata Jamartin. (ndi)

LEAVE A REPLY