IDNEWS.CO.ID – Para pendemonstrasi diketahui telah menggantikan kampus-kampus universitas besar Hong Kong dan telah menyetop akses jalan ke arah kampus-kampus itu. Kepolisian lantas terus mengusahakan menangkis jalannya aksi demonstrasi dengan menambakkan gas air mata.

Dalam hari Jumat (15/11/2019) waktu ditempat, faksi kepolisian Hong Kong menyampaikan kalau tewasnya seorang petugas kebersihan jalan yang berumur 70 tahun dianggap sebagai tindak pembunuhan. Banyak pendemonstrasi yang terkonsentrasi di kampus-kampus, melempari polisi dengan bebatuan dan menambakkan panah pada petugas pemerintahan Hong Kong di jalanan.

Pria itu meninggal di rumah sakit gara-gara alami cedera di kepala karena terkena lemparan sebuah batu bata oleh seorang pendemonstrasi yang menggunakan topeng. Polisi menyebutkan peristiwa itu sebagai “tindak kejahatan pendemonstrasi.”

Komisi Kongres-Eksekutif Amerika Serikat untuk China, mengatakan kalau kondisi yang terjadi di Hong Kong saat ini “sangat memprihatinkan.”

Banyak pendemonstrasi mengakui akan segera kembali buka jalan masuk ke arah ke kampus-kampus universitas. Tapi, melihat dari tingkat kerusakan yang ada, pemerintah Hong Kong akan tetap tutup jalan masuk itu.

“Lantaran berjalan-jalan masih dipenuhi puing-puing tersisa demonstrasi, lalu rusaknya arahan lalu lintas, jadi buka kembali akses (jalan) terdapat resiko membahayakan pengguna jalan,” demikian pengakuan terdaftar pemerintah Hong Kong.

Menteri Kehakiman Hong Kong di serang

Dalam hari Kamis (15/11) di London, Menteri Kehakiman Hong Kong, Teresa Cheng, di serang pendemonstrasi pro-demokrasi Hong Kong. Gara-gara penyerbuan ini, Cheng menderita banyak luka yang cukup serius. Kepala Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, mengkritik keras penyerbuan itu dan mengatakannya sebagai “serangan biadab.” Pemerintah China telah mendorong faksi berkuasa Inggris untuk tangkap pelaku penyerbuan. Peristiwa itu jadi pertama kali serangan langsung yang membidik seorang petinggi pemerintah Hong Kong dalam serangkaian demonstrasi selama kurang lebih enam bulan terakhir ini.

Protes dalam hari Jumat ini (15/11) pun menyebabkan kemacetan parah di berjalan-jalan protokol Hong Kong dan di Terowongan Cross-Harbour. Perjalanan kereta di sejumlah wilayah di Hong Kong terpaksa dipending. Polisi lantas menyarankan masyarakat untuk tetap ada di rumah, dan pergi jika cuma merasakan dibutuhkan.

Demonstrasi pro-demokrasi di Hong Kong bermula saat massa tuntut pemerintah untuk meniadakan RUU Ekstradisi Cina yang sekarang sudah dicabut. Tapi, sekarang pendemonstrasi tuntut hal yang tambah besar yaitu adanya transparansi demokrasi di Hong Kong.

Seperti yang diberitakan, Pemilu Hong Kong rencananya akan diselenggarakan pada 24 november 2019 mendatang. (ach)

LEAVE A REPLY