Ilustrasi nongkrong di kafe/kedai kopi. Foto: Hello

IDNews.co.id – Gaya hidup orang-orang di masa saat ini sudah mengalami perubahan dan perubahan. Jika dahulu, orang-orang tidaklah terlalu mementingkan masalah penampilan dan gaya hidup, tapi saat ini, berlainan keadaannya. Gaya hidup, mulai jadi perhatian serius.

Gaya hidup, bukanlah sekali lagi terbatas masalah penampilan, aktivitas “nongkrong” saat ini juga ikut-ikutan jadi kegiatan yang dilakukan anak muda ataupun dewasa di satu tempat untuk berkumpul dan melakukan kegiatan isi waktu senggang.

Fenomena nongkrong menarik ketertarikan peneliti untuk melakukan riset lebih dalam. Nongkrong di Indonesia sudah ada sejak masa dulu sampai saat ini dan mengalami sebagian perubahan bersamaan mengembangnya masa. Pada masa dahulu, nongkrong biasanya cuma dilakukan di warung kopi kecil.

Kegiatan yang dilakukan juga lebih simple, cuma untuk berkumpul bersama rekan. Tetapi terakhir, kegiatan nongkrong semakin banyak dilakukan di kafe-kafe maupun di restoran. Masih seperti masa dulu, kegiatan inti dari nongkrong itu tak beda untuk kongko dan bersosialisasi.

Karena fenomena berikut, tempat nongkrong seperti kafe dan restoran, makin kreatif untuk berbenah, membuat tempat nongkrong yang asik dan buat kerasan pengunjungnya.

Tak heran, jika saat ini, makin menjamur beberapa tempat nongkrong kekinian. Sesuai dengan masa yang serba memercayakan teknologi smartphone, sosial media juga bertindak buat tempat nongkrong tambah tenar. Otomatis, lewat sosial media, banyak orang-orang yang turut mempromosikan tempat nongkrong, apalagi tempat itu memiliki keadaan instagramable.

Jadi Kebutuhan

Ya, sejak sosial media tambah popular dan banyak digunakan, usaha kafe dan restoran makin digemari karena beberapa besar anak muda mengalami masa transisi kesukaan.

Disadari juga oleh sosiolog Sigit Rohadi, nongkrong di kafe sebagai gaya hidup anak muda perkotaan. Tetapi, gaya hidup ini sebagai gaya hidup yang konsumtif, semi hedonis. Kebanyakan dari mereka, datang ke tempat nongkrong untuk rayakan kehidupan karena kebolehan keluarga.

” Ini aspek terpenting yang buat gaya hidup itu ada. Kalau dahulu, orang makan tiga kali sehari, minum ketika haus saja dan makan ketika lapar saja, ” katanya.

Tapi saat ini, lanjutnya, orang tidak lapar bahkan tidak haus, nongkrong di kafe atau restoran. Dan hal ini, dilakukan untuk nikmati suatu hal.

” Fenomena ini pertamanya disebarkan oleh eksekutif muda dengan rancangan awal happy hour, ” tutur dia.

Tetapi, rancangan ini akhirnya mengerucut, nongkrong di kafe banyak dilakukan oleh anak muda golongan menengah ke atas karena didukung ekonomi orangtua.

” Jika dilihat, mereka nongkrong tidak keluarkan banyak uang, paling cuma Rp30-50 ribu. Tapi yang di cari sebenarnya yaitu dapat duduk di kafe, gunakan laptop, kumpul-kumpul, ” Sigit meneruskan.

Dari peristiwa kumpul-kumpul itu, ada aktivitas yang diabadikan dan dapat difoto. Saat mereka jadi sisi peristiwa itu, sekalian untuk perlihatkan eksistensi di golongan rekan-rekan.

Karena hal tersebut, nongkrong dan terlibat perbincangan bersama rekan-rekan sudah jadi kebutuhan. Terkecuali nongkrong dan sama-sama sharing narasi, pastinya ada peristiwa dimana berfoto bersama jadi kewajiban, selanjutnya foto itu diupload ke sosial media, bukanlah cuma untuk kenang-kenangan, tapi pula sebagai alat perlihatkan eksistensi dan mencari pujian.

” Ini biasanya dilakukan, supaya mendapatkan pujian dan sekalian untuk perlihatkan pada rekan sebaya supaya nampak lain, ” kata dia. (ndi)

LEAVE A REPLY