Ilustrasi obesitas. Foto: Tempo.co

IDNEWS.CO.ID – Obesitas sekarang ini jadi ancaman global yang bisa menimbulkan kematian. Hal ini terjadi sebagian besar sebab gaya hidup yang tidak sehat, malas bergerak, serta mengonsumsi makanan tidak sehat secara berlebihan.

Menurut ahli penyakit dalam serta konsultan endoktrin Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM), Dr dr Tri Juli Edi Tarigan, SpPD-KEMD, hal yang paling bagus untuk mengurangi berbagai faktor resiko itu adalah lifestyle changing.

“Memang saat ini untuk mengubah gaya hidup sangatlah berat meski akar permasalahnnya ada di lifestyle. Orang-orang itu memang sangat susah untuk disuruh olahraga rutin, lalu susah juga untuk makannya ditakar. Apalagi untuk bisa konsisten menjalani itu semua,” jelas Dr Tri Juli waktu ditemui detikHealth usai sidang promosi doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jumat (11/1/2019).

Dr Tri Juli pun mengatakan jika motivasi internal yang lemah juga sebagai penyebab utamanya, mereka lemah dalam persoalan ini, serta memilih untuk mengonsumsi obat-obatan saja di banding untuk melakukan lifestyle changing.

Selain itu, dokter spesialis gizi klinik dari RS Pondok Indah – Puri Indah, dr Raissa E Djuanda, M Gizi, Sp GK, juga menambahkan pendapatnya belakangan ini kepada wartawan jika penyebab lainnya yang dapat memicu timbulnya obesitas adalah ada masalah di otaknya, hingga cenderung orang itu akan merasa lebih cepat lapar serta terus menerus merasa lapar.

“Memang dianjurkan untuk diperiksa lebih lanjut. Obesitas macam ini biasanya memiliki masalah di otaknya, sehingga cenderung orang tersebut akan merasa lebih cepat lapar dan terus menerus merasa lapar,” pungkas dr Raissa.

Obesitas kembali jadi perbincangan setelah Titi Wati, seorang wanita asal Kalimantan Tengah dievakuasi ke rumah sakit karena tidak bisa berdiri. Berat badannya mencapai 350 kg serta dikategorikan obesitas morbid alias exstrem. (fat)

LEAVE A REPLY