Sugeng Slamet, pelaku usaha asal Kota Batu Jawa Timur menunjukan buah apel hasil usahanya yang beromset diatas Rp1 Milliar per bulan.

IDNews.co.id – Omset pelaku usaha kecil menengah (UKM) asal Kota Batu, Sugeng Slamet (40) mencapai diatas Rp1 Milliar perbulan dari usahanya menjadi distributor buah apel. Kesuksesan ini tidak terlepas dari dukungan Bank Central Asia (BCA) yang telah memberikan kredit usaha untuk pengembangan modal.

Dari pengakuannya, awalnya ia hanyalah seorang petani buah apel di daerah Nongkojajar sejak 1991. Pada 1999 kemudian ia memulai berani menjual sendiri hasil panennya itu ke pasaran.

Kemudian pada 2005 ia mendapatkan pinjaman modal usaha melalui kredit usaha kecil (KEK) sebesar Rp300 juta dari BCA. Dana ini dimanfaatkannya untuk pengembangan usaha.

“Modal yang saya dapatkan itu untuk membeli pupuk, dan membangun pasar,” kata pemilik UD Gelora, penghasil dan distributor buah apel di tempat usaha miliknya di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, Sabtu (11/11).

Pengembangan usaha yang dilakukan ke sejumlah daerah seperti wilayah Jawa, Bali, Kalimantan, dan Medan. Butuh waktu selama lima tahun untuk membangun pasar dari usahanya tersebut. Memberikan buah apel yang berkualitas kepasaran menjadi kunci utama agar buah apelnya mampu diterima pasar.

Setelah kepercayaan pasar mulai terbangun, pada 2007 ia kembali mengajukan dana pinjaman ke BCA sebesar Rp 800 juta. Tambahan modal ini ia manfaatkan untuk menjalin kemitraan dengan 40 petani diiwilayahnya yang saat ini telah bertambah menjadi 350 petani.

Kemitraan dengan para petani sengaja dilakukan, untuk menolong mereka dari keterpurukan karena harga pupuk yang semakin mahal. Dari kemitraan tersebut setiap petani diberikan pinjaman modal mulai dari Rp10 juta sampai Rp70 juta per orangnya.

“Pupuk kompos dan insektisida pada saat itu harganya mahal, jadi keuntungan petani tidak jelas. Makanya harus ditolong dengan modal, agar mereka tidak putus asa,” ucapnya.

Pada awalnya, petani menolak menjalin kemitraan tersebut. Namun setelah dirayu, petani akhirnya mau untuk menjadi mitranya dengan catatan tidak meminta kembali modal pinjaman yang diberikan dengan uang tunai melainkan memotong hasil panen minimal 2 persen sampai dengan lunas.

Para petani tersebut setiap panen mampu menghasilkan 10 ton apel. Namun Sugeng hanya mengambilnya sebanyak 6 ton setelah melakukan proses pemilihan untuk mendapatkan buah apel yang berkualitas.

Pria lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) ini mengaku tidak ingin menambah pasokan buah ke pasar untuk menjaga stabilitas harga. Saat ini harga perkilo untuk jenis rum beauty dari petani sebesar Rp14 ribu dijual di Supermarket mencapai Rp28 ribu, Mana lagi dari petani Rp12 ribu dijual di Supermarket seharga Rp26 ribu. Untuk jenis lain, Anna dihargai Rp10 ribu dari petani dan Grand Smith dari petani Rp7 ribu dari petani.

Sejak memiliki ratusan mitra petani, usaha Sugeng berkembang dengan pesat. Dari awal omsetnya yang tidak menentu, saat ini bisa meraup omset Milliaran setiap bulannya. “Omset kalau dihitung bisa diatas Rp 1 Milliar setiap bulan,” katanya.

Bahkan, kini ia sudah mulai membangun pabrik pengolahan buah apel menjadi keripik seluas 24 hektar. Rencananya pabrik tersebut akan mulai dioperasikan 2018 dengan menambah 15 pekerja dari yang sudah ada saat ini sebanyak 60 orang. “Dana pembangunan pabrik ini Rp1,5 Milliar, dari BCA saya dapatkan pinjaman sebesar Rp800 juta,” tukasnya.

Sementara itu, Senior Vice President (SPV) Divisi Bisnis Komersial Dan SME BCA, Daniel Darmawan mengatakan Sugeng Slamet merupakan contoh pengusaha UKM yang didukung oleh BCA.

“Kami dalam melayani transaksi perbankan dengan nasabah selalu berusaha menawarkan solusi yang dibutuhkan, termasuk Kredit Usaha Kecil (KUK) BCA yang merupakan kredit usaha dengan plafon maksimal Rp. 1 Milliar dengan bunga yang menarik. Kami ingin para pengusaha UKM dapat turut berkembangn bersama dengan BCA,” kata Daniel. (ndi)

 

LEAVE A REPLY