Ilustrasi vagina/organ intim.

IDNEWS.CO.ID – Bukan lagi menjadi rahasia bahwa keingintahuan remaja terhadap seks sangat besar. Bagaimanapun, banyak orangtua cukup kewalahan menghadapi hal tersebut karena merasa khawatir mendiskusikannya bersama anak.

Sejalan dengan itu, Reckitt Benckiser Indonesia menggelar survei daring (survei secara online) di kalangan para remaja, pasangan yang baru menikah, dan para orang tua di lima kota besar di Indonesia.

Berdasarkan survei tersebut ditemukan bahwa ketika para remaja melewati tanda pubertas pertama, mereka merasa lebih nyaman untuk membahas topik-topik tentang pendidikan seks dan kesehatan reproduksi dengan praktisi kesehatan atau dokter (33 persen), yang menduduki posisi pertama sebagai sumber informasi terpercaya.

Diikuti oleh teman sebaya atau sahabat (31 persen) dan terakhir mempercayakan orang tua (24 persen) untuk membahas topik seks. Hal ini bisa saja disebabkan karena para remaja merasa takut dihakimi orang tua mereka (61 persen) jika mereka bertanya mengenai topik ini.

Padahal, peran orangtua sangat penting untuk memberikan edukasi seks pada anak yang beranjak remaja. Namun, ini tentu harus dimulai sejak dini dan dilatih dengan menciptakan komunikasi dua arah yang hangat.

“Kalau orangtua tiba-tiba ajak anak ngomongin seks padahal keduanya jarang ngobrol, itu malah menakutkan buat anak. Makanya mulai ciptakan suasana yang hangat, jadi memang dimulai dari komunikasi 2 arah yang ada sejak kecil,” ujar Psikolog Klinis, Inez Kristanti, M.Psi., dalam acara Durex Eduka5eks, di kawasan Sudirman, Jakarta, Kamis 21 November 2019.

Orang tua harus berpikiran terbuka, mengubah cara mereka mendidik dan mengkomunikasikan topik-topik ini, serta menjadi seramah mungkin kepada para remaja agar mereka merasa nyaman. Topik seks, lanjut Inez, bisa dimulai sejak dini saat anak sudah mulai memahami kata per kata.

“Mulai sejak dini, mulai usia 1-2 tahun, ajarkan anak nama-nama organ di tubuh seperti mata dan telinga, sebut juga organ seksual dengan sebutan yang benar. Bukan dengan menyebutkan sebagai ‘burung’ dan lain sebagainya,” papar Inez.

Hal senada dipaparkan oleh Spesialis Kulit dan Kelamin, dr. Hanny Nilasari, SpKK (K), bahwa edukasi seks bisa dimulai dengan pengenalan alat reproduksi dan cara menjaganya tetap sehat. Setelah anak mulai mengalami pubertas, orangtua perlu menjelaskan arti dari kondisi tersebut dan bagaimana menanganinya dengan baik.

“Usia 3-5 tahun jelaskan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda, apa tujuan Tuhan ciptakan berbeda. Baru saat remaja, perempuan mulai haid dan laki-laki akan mimpi basah, maka dijelaskan. Bilang kalau alat reproduksi sudah siap sebelum bicara tentang penyakit menular seksual. Soal penyakit pasti menakutkan,” kata dia.

LEAVE A REPLY