IDNEWS.CO.ID – Organisasi hak asasi manusia, Human Rights Watch, HRW, mengatakan warga di pengungsian sangat rentan terhadap virus corona karena situasi kamp yang terlalu padat, adanya larangan bepergian dan sanitasi yang buruk.

Infeksi positif virus corona di Myanmar diumumkan minggu lalu, dan korban jiwa pertama terjadi hari Senin (30/3/2020).

Sebelumnya, pemerintah Myanmar mengatakan bahwa gaya hidup dan pola makan di negara itu telah melindungi mereka dari virus.

Myanmar, negara dengan 51 juta penduduk, memiliki sistem kesehatan yang buruk.

Sebagian besar penduduk tidak memiliki layanan kesehatan dasar, menurut, Profesor Nehginpao Kipgen dari Jindal School of International Affairs kepada BBC News. Apa lagi warga yang berada di pengungsian.

Warga yang tinggal di pengungsian kadang harus berjuang untuk layanan dasar seperti akses untuk mendapatkan air bersih dan layanan dasar lain.

“Kondisi kesehatan sudah sangat buruk bagi para pengungsi di kamp-kamp di Rakhine, Kachin, dan bagian utara Shan, dan kini COVID-19 mengancam komunitas yang rentan ini,” kata Brad Adams, Direktur Asia HRW.

Organisasi non-profit Inggris Oxfam menggambarkan situasi di salah satu kamp di negara bagian Rakhinea dan kesulitan perawatan kesehatan bahkan dalam keadaan sekarang ini.

“Jika ada yang sakit dan butuh perawatan dari spesialis, mereka harus meminta izin resmi yang bisa memakan waktu beberapa hari. Lalu mereka harus membayar pengawalan keamanan untuk pergi ke rumah sakit,” kata Oxfam dalam pernyataan mereka.

Gelombang kekerasan komunal di Myanmar telah membuat puluhan ribu orang mengungsi, kebanyakan adalah etnis minoritas Muslim Rohingya yang dipersekusi.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh HRW pada hari senin (30/3/2020), sekitar 130.000 Muslim di Rakhine hidup di kamp tahanan terbuka, yang nyaris tidak memiliki akses terhadap fasilitas kesehatan, serta tak ada fasilitas tes terhadap COVID-19 sama sekali. (ria)

LEAVE A REPLY