IDNews.co.id – Direktur International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Sugeng Bahagijo meragukan hak angket DPR kepada KPK berujung pada penguatan. Pasalnya, hingga kini tidak ada kepastian dari para wakil rakyat di Senayan bila angket itu akan meningkatkan kinjerja lembaga antirasuah tersebut.

“Kinerja KPK seperti apa yang mau ditingkatkan oleh Pansus Angket KPK di DPR, kita ragu,” ungkapnya dalam diskusi bertajuk ‘Ke mana Arah Pemberantasan Korupsi?’ di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (18/6).

Sugeng juga meragukan Pansus Angket KPK itu akan mampu menaikkan tingkatan KPK saat ini ke yang lebih tinggi. Sebab, dalam kondisi saat ini, Parpol juga ingin mempertahankan reputasinya sendiri. “Kita ragu pansus akan bawa KPK ke tingkat yg lebih tinggi. Katakanlah ke liga premier atau lainnya,” ucapnya menganalogikan.

Sugeng memaparkan, kondisi politik terhadap KPK saat ini bisa disebut dengan beberapa hal. Pertama, politic unreason atau politik yang tidak beralasan atau tidak menggunakan nalar. “Nah ini nggak pakai nalar, nggak pakai reason. Padahal asumsinya politik itu pakai reason (alasan, Red),” kata dia.

Kedua, lanjutnya, kondisi politik saat ini juga bisa dikatakan sebagai politic extreme. Jenis ini tidak butuh alasan ataupun etika. Lebih jauh, politik ekstrim ini ingin membongkar apa saja yang menurutnya negatif. “Ketiga, apakah ini politik transaksi. Artinya perputaran untuk siapa dan dalam hal apa,” tegasnya.

Dikonfirmasikan hal di atas, anggota Pansus Hak Angket KPK Bambang Soesatyo tak menggubrisnya. Dia mengatakan, justru Pansus akan bertindak semakin ekstrim. Contohnya, pihaknya akan menggunakan mekanisme panggil paksa apabila KPK bersikukuh menolak permintaan menghadirkan tersangka pemberian keterangan palsu dalam sidang KTP elektronik (e-KTP) Miryam S Haryani.

“Kalaupun nanti terjadi pemanggilan paksa oleh Kepolisian untuk dihadirkan pada sidang Pansus Hak Angket, itu bukanlah keinginan Pansus DPR ataupun Polri tapi perintah UU,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (18/6). (ton)

LEAVE A REPLY