Ilustrasi wanita/kulit wajah.

IDNEWS.CO.ID – Pemakaian tabir surya selama masa pandemi kerap diabaikan lantaran menganggap pemakaiannya tak dibutuhkan selama di rumah. Padahal, paparan polusi dan sinar matahari bisa bersumber dari dalam rumah.

Sebut saja pemakaian lampu yang menyorot terus menerus sehingga bisa memberi dampak baik pada kulit wajah. Polusi asap dari proses memasak rumah juga kerap diabaikan bagi kesehatan kulit.

Baca Juga: 3 Tips Pakai Tabir Surya, Jaga Kulit Sehat Saat Bersepeda

Padahal, dengan tetap melakukan perawatan rutin merawat kulit agar tetap sehat dan terhindar dari photo-aging atau penuaan dini, yang berarti kita telah berinvestasi di masa depan. Menurut dr. Arini Astasari Widodo Sp.KK, tabir surya harus dipakai setiap hari, baik di dalam maupun luar ruangan.

“Radiasi juga bisa kita dapatkan di rumah ata upun di kantor. Jadi walaupun sekarang lagi zaman PSBB, bukan berarti kita aman dari sinar UV. Dari search WHO bahwa 90 persen sinar UV, bahkan kalau mendung juga bisa tembus. Jadi tidak berarti kalau mendung itu kita aman dari sinar UV,” ujar dr. Arini dalam acara virtual Anessa Beauty Sunscreen baru-baru ini.

Lebih lanjut, dokter Arini menyebut bahwa di dalam ruangan sekali pun, sinar matahari dapat masuk melalui pantulan. Seperti di tempat teduh, hanya bisa melindungi kulit sekitar 50 persen saja.

“UV, terutama UVA juga dapat menembus kaca jendela. Oleh karena itu, kita harus hati-hati. Jadi disarankan untuk tetap memakai sunscreen di dalam ruangan,” pungkasnya.

Tercatat bahwa Indonesia memiliki intensitas atau UV indeks 11+. Kondisi itu membuktikan bahwa kadar UV indeks di Indonesia sangat tinggi dan berisiko pada kesehatan kulit termasuk kanker.

“Sinar UVB bisa membuat sunburn, warnanya merah, dan dia bisa menyebabkan skin cancer. Sedangkan UVA dapat menyebabkan pigmentasi kulit dan penuaam,” ucapnya.

“Apa yang dilakukan oleh sinar UV, intinya dia membuat free radicals, dia merusak sel, dia merusak DNA, dan kemudian menyebabkan melanosit,” tambahnya.

LEAVE A REPLY