Protes di Konsulat Iran di Karbala, Irak

IDNEWS.CO.ID – Parlemen Irak menyetujui menyerahkan pengunduran diri Perdana Menteri (PM) Irak Adel Abdul Mahdi setelah protes antipemerintah telah mengguncangkan Irak selama beberapa minggu terakhir.

Ketentuan PM Irak Abdul Mahdi mundur terjadi setelah teriakan ulama Muslim Syiah Irak, Ayatollah Ali al-Sistani, biar parlemen perhitungkan untuk menarik support buat pemerintahan Abdul Mahdi. Masukan itu dikeluarkan untuk membendung protes keras yang terus terjadi.

“Parlemen Irak akan meminta presiden negara untuk mencalonkan seorang perdana menteri baru,” catat pengakuan Parlemen Irak, seperti dilansir The Star, Senin 2 Desember 2019.

Anggota parlemen mengatakan pemerintahan Abdul Mahdi termasuk perdana menteri sendiri akan tetap dalam memikul tanggung jawab dalam kemampuan sementara hingga sampai pemerintah baru diambil.

Dibawah konstitusi, Presiden Barham Salih akan meminta parlemen untuk mencalonkan seorang perdana menteri baru untuk membuat pemerintah. Langkah ini lantas diperkirakan akan mengundang konflik politik selama beberapa minggu.

Pasukan Irak telah tewaskan hampir 400 orang pengunjuk rasa muda yang tidak bersenjata, sejak protes anti-pemerintah pecah pada 1 Oktober 2019 lalu. Tidak hanya itu, beberapa puluh pasukan keamanan pula meninggal dunia dalam bentrok.

Pengunduran diri Abdul Mahdi meskipun diterima baik oleh para demonstran tetapi diperkirakan tidak akan akhiri demo yang tuntut perombakan metode politik korup di Irak. (ndi)

LEAVE A REPLY