Ilustrasi pernikahan

IDNews.co.id – Terlalu naif jika menikah sekedar dilandasi pada suatu pikiran kalau setelah menikah akan ada orang yang menyetrika bajumu, bersihkan semua pekerjaan rumah, atau memikul biaya kredit angsuran motor.

Rekan-rekan saya sering melayang-layangkan lelucon saat melihat rekan lelakinya yang belum menikah diribetkan dengan cucian yang menggunung, kamar yang berantakan, atau pada wanita yang datang sendirian di sebuah acara.

“Makanya menikah agar ada yang nyetrikain busana. ”

“Kok datang sendirian? Tidak malu sama sepasang sendal yang di pakai? ”

Orang-orang yang mengimani demikian kelihatannya perlu jasa tukang laundry atau ojek, bukanlah seorang suami atau istri. Menikah semestinya terlepas dari stereotip demikian.

Masalahnya, membebaskan diri dari rencanasi sejenis itu bukanlah perkara mudah. Sejak lama, pikiran di sekitar kita kalau wanita dinikahi satu diantaranya untuk mengurusi rumah, sementara suami dituntut penuhi nafkah keluarga.

Anggapan ini selalu dibuat dan pelan-pelan jadi etika di orang-orang. Jadi, saat mereka merasa suami yang melakukan pekerjaan rumah tangga, atau seorang istri yang berkarier diluar rumah, mereka saat itu juga segera berikan label jelek.

Semestinya pernikahan tidak dirisak perkara demikian. Suami dan istri memiliki hak tentukan pekerjaan dan keharusan mereka sendiri. Asalkan, ketentuan tentang pembagian jatah kerja dalam rumah tangga berdasarkan hasil perjanjian dengan azas kesetaraan. Bukanlah karena efek dan tekanan system sosial yang memang relatif patriarkis-misoginis.

Dalam system sosial yang patriarkis-misoginis, menitipkan busana kotormu dan memasrahkan semua masalah rumah tangga pada istri dianggap lumrah. Sementara suami bertanggungjawab penuh dalam mencari nafkah. Atau demikian sebaliknya.

Dengan selalu pelihara perspektif demikian, itu sama juga dengan pelihara maskulinitas sekalian melanggengkan subordinasi pada wanita.

Bentuk subordinasi itu satu diantaranya berbentuk peranan wanita di rumah yang sering dianggap remeh. Materialisme di kepala kita buat apa-apa yang tidak hasilkan uang dianggap pekerjaan percuma belaka.

Contohnya begini. Lelaki yang pergi kerja waktu 8 pagi dan pulang waktu 5 sore dinilai lebih agung dibandingkan dengan wanita yang hampir 24 jam mengurusi rumah tangga. Sementara lelaki, atas nama maskulinitas, malas melakukan pekerjaan rumah yang memang diidentikkan sebagai aktivitas feminin.

Apakah dengan mengurusi rumah tangga dan keluarga, buat wanita lebih rendah derajatnya? Atau, lelaki yang bertanggungjawab mencari nafkah keluarga buat ia lebih tinggi? Saya sangka tidak.

Tingginya derajat manusia saya pikir bukanlah karena jenis kelamin atau kedudukan yang ia emban. Perilaku baik pada sesama, lebih-lebih pada pasangannya, saya pikir itu buat derajat seseorang tambah baik.

Untuk itu, komunikasi yang sehat butuh dilakukan dalam membuat keluarga. Tindakan memonopoli, meremehkan pendapat istri atau istri yang memasrahkan semua suatu hal seutuhnya pada suami, malah buat diantara satu pihak terasa superior, dan otomatis membuat rekanan kuasa dan dominasi pada pasangan.

Jika keadaan ini dilewatkan, dalam kondisi terburuk, kesempatan untuk bertindak semena-mena dan tindakan KDRT pada pasangan mungkin sangat terjadi.

Data yang dikumpulkan Komnas HAM, dari 259. 150 masalah kekerasan atas wanita yang terjadi selama tahun 2016, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah yang teratas mencapai lebih dari 245. 548 masalah atau sekitar 94% dari keseluruhnya.

Ketua Subkomisi Pemantauan Komnas Wanita, Indraswari, mengatakan kalau kekerasan didalam rumah tangga terjadi karena masih terdapatnya ketimpangan gender.

Dengan kata beda, domestic violence yang sampai kini terjadi karena terdapatnya dominasi diantara satu pihak dalam rumah tangga, atau pihak yang satu coba menguasai pihak beda. Suami yang terasa memiliki otoritas pada badan istri yang ia nafkahi dalam keluarga terasa memiliki hak bertindak semena-mena pada istri.

Jadi, perkara domestik rumah tangga semestinya, lagi, harus didasari dengan kesetaraan dan terlepas dari stereotip yang sampai kini terlegitimasi dalam nilai dan etika sosial di orang-orang kita yang relatif patriarkis dan menjunjung tinggi maskulinitas.

Rencana kesetaraan malah mengajarkan alur pikir sederhana ; bukankan kita semuanya merupakan manusia? Kenapa lalu atribut seperti jenis kelamin memberikan kekuasaan pada diantara satu jenis kelamin?

Pada akhirnya, menikah bukanlah untuk melanggengkan dan memupuk patriarki, pernikahan yang baik lahir dari harmonisasi dan rasa adil yang disetujui oleh si lelaki dan wanita supaya beban sosial dapat dijamin bersama.

Jadi, menikahlah!

LEAVE A REPLY