Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno

IDNews.co.id – DKI Jakarta menargetkan realisasi investasi PMDN dan PMA pada 5 tahun kedepan mencapai Rp1.000 Triliun. Pemprov DKI optimis dapat melampaui target di tahun 2018 menembus Rp 100 Triliun. Sebab, belakangan ini, warga masyarakat DKI mengeluhkan sulitnya mendapatkan pelayanan perizinan yang baik dan cepat.

“Proyeksi lima tahun mendatang realisasi investasi di Jakarta dapat menembus Rp 1.000 Triliun. Target realisasi investasi PMDN dan PMA tahun 2018 dapat menembus angka Rp 93,1 Triliun. DPMPTSP DKI optimis dapat melampaui target, paling tidak menembus Rp 100 Triliun,” ujar Edy Junaedi, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Pemprov DKI Jakarta, Jumat (12/01).

Sedangkan, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno menyebutkan bahwa persepsi warga masyarakat untuk meminta perizinan di Jakarta biasanya susah atau gampang?.

“Kedepan untuk mengurus izin di DKI akan gampang,” ujar Sandi mengenakan peci hitam dan syal menghadiri hari jadi ke-3 DPMPTSP Provinsi DKI dengan tema ‘Pelayanan Terpadu Berbasis Teknologi yang Mengedepankan Kearifan Lokal’.

Izin mendirikan bangunan kedepan akan menjadi mudah selama 3 jam. Juga akan ada Arsitek yang tidak ecek-ecek yang pasti membanggakan.

Edy menambahkan, sesuai dengan komitmen DPMPTSP Provinsi DKI ingin memperbaiki pelayanan birokrasi dalam bidang penanaman modal dan penyelenggaraan pelayanan perizinan / non perizinan di DKI.

“Sehingga lebih memudahkan menarik minat investor masuk ke Jakarta,” tambah Edy.

Dimana warga Jakarta tidak sabar terhadap pelayanan publik di Jakarta. “Dan ini akan menjadi percontohan,” katanya.

Laporan Bank Dunia (World Bank) tentang kemudahan berusaha atau Ease of Doing Business (EODB) tahun 2018. Indonesia berada pada posisi 72, dalam kurun waktu 2 tahun terakhir naik 34 peringkat. Jika terus diperbaiki kita akan naik diangka 40 besar di dunia. “Insyaallah,” ujar Sandi.

Jakarta memiliki peranan penting dalam survey EODB yaitu kota yang mewakili Indonesia. Untuk dijadikan lokasi perhitungan dengan bobot 78 persen.

Edy berharap, nilai-nilai kearifan lokal dalam pelayanan dapat mengubah wajah birokrasi di Jakarta yang dahulu kerap mendapatkan stigma negatif seperti pelayanan yang kaku, berbelit dan rumit menjadi birokrasi yang setia melayani Jakarta. (ach)

LEAVE A REPLY