Sampah di TPA Cipeucang Menggunung. Foto: Tribunnews.com

IDNEWS.CO.ID – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan telah merangkum 3 (tiga) Kesibukan Strategis Wilayah (KSD) untuk menuntaskan permasalahan pengaturan sampah di Jakarta secara menyeluruh.

Kiat ini didesain untuk menyelesaikan masalah pengaturan sampah baik periode pendek, periode menengah dan periode panjang. KSD itu, ialah KSD Pegurangan Sampah di Sumber, KSD Optimaliasasi TPST Bantargebang, dan KSD Pembangunan ITF.

Mengawali dengan program Samtama

Untuk KSD Pengurangan Sampah di Sumber, Gubernur menginisiasi program pengurangan sampah di sumber sampah dengan kegiatan-kegiatan salah satunya, kegiatan Sampah Tanggungjawab Berbarengan “SAMTAMA” melalui RW-RW percontohan pengurangan sampah sejak di sumber sampah yang nanti akan diduplikasi di RW se-Jakarta, peningkatan bank sampah, peningkatan TPS 3R (Recycle Center), kampanye dan membuat kebijakan prasyarat penggunaan plastik sekali gunakan, seperti menggunakan wadah daging kurban ramah lingkungan dan lain-lain.

Samtama sendiri merupakan gerakan penduduk untuk mengurangi dan produksi sampah sejak dari sumber. Pada step awal, sekitar 22 RW berubah menjadi pelopornya. Nanti, gerakan ini akan direplikasi ke semua RW se-Jakarta.

“Bapak dan ibu mengawali suatu hal yang baru. Di Jakarta ada 2.927 RW yang kumpul ini hari cuma 22 RW. Banyaknya masih kecil, tetapi jangan meremehkan jumlahnya yang kecil. Jumlahnya yang kumpul di sini ialah yang pertama untuk mengawali gerakan baru untuk mengatur sampah di Ibukota,” kata Anies dalam pengarahannya terhadap ratusan relawan Samtama di Balaikota, Sabtu (24/8/2019).

Anies pula mengatakan kalau di kota-kota maju dunia, kita akan menemukan bagaimana semua penduduk mengelola sampahnya. “Sampah tidak saja diurus oleh pemerintah karena yang menghasikan sampah kita semuanya,” tukasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Andono Warih mengatakan, Pemprov DKI Jakarta sedang jalankan peranan city 4.0 dengan menyediakan basis untuk masyarakat agar dapat bertindak membuat kota dan bergerak bersama.

“Dinas Lingkungan Hidup bersama Tim Pengerak PKK membuat basis pengaturan sampah dengan istilah Samtama atau Sampah Tanggung Jawab Berbarengan ini,” kata Andono.

Optimalisasi Bantar Gebang dan TPA Sendiri

Sedangkan untuk KSD Optimaliasasi TPST Bantargebang, Gubernur bekerja bersama-sama dengan BPPT membuat PLTSa yang saat ini sudah bekerja, menambang sampah lama dari landfill (landfill mining) untuk digunakan sebagai bahan bakar pilihan (Refused Derived Fuel) indusri semen. Bahan bakar pilihan dari sampah ini sama dengan nilai kalor batubara muda. Beberapa langkah ini bisa perpanjang saat faedah TPST Bantargebang, Apabila tanpa dilakukan beberapa langkah mitigasi ini diperkirakan TPST Bantargebang akan penuh pada tahun 2022.

Lantas untuk KSD Pembangunan ITF, outcome dari KSD ini ialah supaya Ibukota tidak bergantung terhadap TPA di luar Jakarta. Sampai “Ibukota memiliki WC di rumah sendiri.” Kami direncanakan memiliki 4 unit ITF yang menyebar di kota Jakarta.

ITF Pertama ialah ITF Sunter dengan kemampuan 2.200 tpd sampah. Tahun lalu sudah dilakukan ground breaking pembangunan proyek tsb. ITF Sunter direncanakan bekerja tahun 2022. Nanti TPST Bantargebang cuma akan memuat residu pemrosesan sampah di kota.

Langkah Cepat Pengurangan Sampah

Pemprov DKI lantas telah menyediakan berbagai kegiatan untuk mengurai permasalahan pengaturan sampah supaya efisien dan efektif dengan cara:

  • Pengoptimalan 17 TPS3R Eksisting Interferensi Tehnologi & Operator
  • Penambahan 68 Depo (dengan luasan >200m2) berubah menjadi TPS3R dengan Interferensi Tehnologi
  • Mensyaratkan Area Mandiri produksi sampahnya dengan jumlahnya pengurangan 2.140 ton/hari
  • Rumah Kompos 1 per Kelurahan: Interferensi alat komposting kemampuan pengaturan 5–10 Ton/5 hari
  • Pemercepatan pengerjaan reguluasi yang mendukung
  • Pembelahan Instansi – Regulator: Dinas Lingkungan Hidup dan Operator : UPT Pengaturan Sampah\
  • Pembentukkan Instansi Pengaturan Sampah (LPS) gabungan dengan Bank Sampah dengan memajukan 1 Kelurahan 1 Pebisnis Pengelola Sampah dan memberikan perangsang terhadap masayarakat atau Instansi Pengelola Sampah (LPS) setiap dapat mengurangi tonase sampah berbentuk Fasilitas, Prasarana, Modal Pengaturan Sampah (Memindah pendanaan Peningkatan Kemampuan Bank Sampah).

KSD-KSD itu merupakan solusi yang dirumuskan Gubernur atas permasalahan pengelolaaan sampah Ibukota yang sudah dirasakan menahun tanpa solusi efisien untuk periode panjang.

Pemprov DKI mengusahakan menjalankan KSD-KSD dan program-program ini untuk mewujudkan “Muka Baru Pengaturan Sampah.” Sekarang ini proses eksekusi KSD itu sudah berjalan. Diantaranya, kita bisa melihat, pengaturan TPST Bantargebang sudah tambah lebih baik dalam 1-2 tahun terakhir. (fat)

LEAVE A REPLY