Virus Corona COVID-19.

IDNEWS.CO.ID – Beberapa waktu belakangan ini, plasma darah disebut-sebut menjadi salah satu alternatif pengobatan yang menjanjikan bagi pasien COVID-19. Terapi ini menggunakan plasma pasien yang sudah sembuh, dipakai untuk membantu orang lain yang masih sedang sakit. 

Namun, baru-baru ini menurut hasil penelitian menyebut bahwa terapi plasma  tidak banyak bermanfaat dalam membantu pasien yang dirawat di rumah sakit melawan infeksi. 

Diterbitkan di BMJ British Medical Journal pada hari Jumat, hasil uji klinis menunjukkan bahwa plasma darah, yang memberikan antibodi dari penyintas COVID-19 kepada orang yang terinfeksi, gagal mengurangi tingkat kematian atau menghentikan perkembangan penyakit parah. Penelitian ini dilakukan terhadap lebih dari 400 pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit. 

Baca juga: Hati-hati, 6 Permukaan Benda Ini Berisiko Tinggi Tularkan Virus Corona

“Percobaan, menunjukkan efek kecil pada tingkat di mana pasien dapat terbebas dari virus, tetapi ini tidak cukup untuk meningkatkan pemulihan mereka dari penyakit. Secara sederhana, tidak ada manfaat klinis bagi pasien,” kata ahli mikrobiologi seluler di  University of Reading, Simon Clarke. 

Di sisi lain, peneliti India telah mendaftarkan 464 orang dewasa yang terkonfirmasi COVID-19  yang dirawat di rumah sakit di seluruh India antara April dan Juli.  Mereka secara acak dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok menerima dua transfusi plasma darah,  dan kelompok lainnya hanya perawatan standar terbaik.

Setelah tujuh hari, terapi plasma  darah hanya memperbaiki beberapa gejala, seperti sesak napas dan kelelahan, kata para peneliti, dan menyebabkan “konversi negatif”,  sebuah tanda bahwa virus sedang dinetralkan oleh antibodi. Tapi ini tidak berarti pengurangan kematian atau perkembangan menjadi penyakit parah dalam 28 hari.

Baca juga: Biar Langsing, Ahli Sarankan Minum Air Putih 30 Menit Sebelum Makan

“Kinerja plasma yang buruk dalam percobaan ini mengecewakan tetapi tidak sepenuhnya mengejutkan,” kata seorang profesor virologi, juga di Reading University, Ian Jones. 

Dia mengatakan terapi plasma darah lebih mungkin bekerja jika diberikan dengan sangat cepat setelah seseorang terjangkit COVID-19. Ian Jones mendesak peneliti ini dan peneliti lain untuk terus melakukan uji coba plasma darah sebagai pengobatan potensial COVID-19, tetapi melakukannya pada pasien yang baru didiagnosis.

“Kami masih belum memiliki perawatan yang cukup untuk tahap awal penyakit untuk mencegah penyakit parah dan hingga ini menjadi pilihan, menghindari terinfeksi virus tetap menjadi pesan utama,” katanya.
 

LEAVE A REPLY