Ilustrasi borgol. Foto: Detik

IDNEWS.CO.ID – Pengacara dari empat pengamen Cipulir yang jadi korban salah tangkap oleh Kepolisian Wilayah Metropolitan Jakarta, Oky Wiratama mengharapkan kliennya akan dibebaskan dan mendapatkan hak ubah kerugian. “Harapannya ke depan, klien kami para pengamen Cipulir dapat mendapatkan hak ubah kerugian,” papar Oky di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Senin (22/7/2019).

Angan-angan itu pula dikatakan dalam sidang praperadilan masalah salah tangkap, ini hari. Yaitu dengan menyertakan alasan-alasan dan tempat masing-masing, baik dari pemohon atau termohon. Faksi termohon mencakup Kepolisian RI, Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, dan Kementerian Keuangan RI.

“Tuntut termohon untuk meminta maaf dan menyatakan mereka telah melakukan salah tangkap, salah proses, dan penyiksaan pada beberapa anak pengamen Cipulir. Menyuruh negara (Kementerian Keuangan RI) untuk memberikan ubah rugi materiil dan imateriil pada beberapa anak yang sekarang sudah dewasa itu,” tandas Oky saat pembacaan permintaan di ruang sidang.

Sidang praperadilan empat pengamen Cipulir korban salah tangkap itu telah digelar di PN Jakarta Selatan pada waktu 13.00 WIB, ini hari. Lanjutan dari sidang ini hari akan dilaksanakan Selasa (23/7/2019). Sebelumnya, empat pengamen asal Cipulir, Jakarta Selatan, Fikri Pribadi, 23, Fatahillah, 18, Arga Samosir alias Ucok, 19, dan Muhammad Bagus Firdaus alias Pau, 22, ajukan tuntutan ubah rugi pada negara atas tindakan salah tangkap, salah proses, dan penyiksaan pada mereka oleh Polda Metro Jaya dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Pada Juli 2013, Fikri, Fatahillah, Ucok, dan Pau diamankan Unit Kejahatan dengan Kekerasan (Jatanras) Polda Metro Jaya dengan gugatan membunuh sama-sama pengamen dengan motif berebutan lapak pengamen dibawah Jembatan Cipulir, Jakarta Selatan. “Tanpa ada bukti yang resmi secara hukum, keempatnya lalu diamankan dan diminta mengakui dengan cara disiksa,” papar Oky pada Rabu (17/7/2019).

Sebab ketakutan, lanjut ia, keempat pengamen itu mengakui dan diserahkan ke pengadilan oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta sampai akhirnya mereka dijatuhi hukuman kurungan penjara. “Setelah melalui proses persidangan yang berliku-liku, akhirnya Mahkamah Agung (MA) menyatakan keempat pengamen itu tidak bersalah melalui Ketetapan Nomor: 131 PK/Pos.Sus/2016,” ujarnya.

Berdasar pada ketetapan dari MA itu, lanjut Oky, keempat pengamen tuntut hak-hak mereka melalui permintaan praperadilan ubah rugi dengan faksi Polda Metro Jaya dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta sebagai termohon dan Kementerian Keuangan sebagai ikut termohon. (fat)

LEAVE A REPLY