Oleh: Semmy Monty, Sekjen Kogas RI

IDNEWS.CO.ID – “Hari Lebaran boleh jadi merupakan momen potensial peningkatan penyebaran Covid19…!” Saya sama sekali bukan orang yang kompeten untuk membuat analisis ilmiah yang tajam dan mendalam terkait penyebaran Covid19. Semata hanya ingin turut berbagi kepedulian (keresahan?).

Kita semua mengamini bahwa tren penyebaran Covid19 di Jakarta dan Indonesia pada umumnya terus meningkat. Signifikan dan makin mengkhawatirkan. Saya tidak perlu mengulang lagi berita- berita tentang ragam dampaknya. Nampaknya kita masih akan bergelut dengan upaya cegah-tangkal (cekal) massifnya penyebaran Covid19 yang cenderung tak terbendung ini.

Sebagai kilas balik, dalam dua minggu sejak kasus pertama diumumkan, laju penyebaran virus hampir menjangkau 10 kota/provinsi berbeda. Khusus di DKI, penyebarannya sudah merata dan menjangkau hampir seluruh kecamatan. Social Distancing pun diberlakukan.
Selanjutnya, menjelang medio April kasus penyebaran merata secara nasional, dengan jumlah kota terjangkit di tiap provinsi yang juga meningkat.

Di Jakarta sendiri peta penyebaran tidak lagi digambarkan dalam skala kecamatan tapi sudah dipetakan dalam skala kelurahan. Angkanya mengkhawatirkan, 65% dari total 267 kelurahan sudah terpapar saat PSBB resmi diterapkan.

Tak tersebut lagi banyaknya upaya yang telah dan masih terus diperjuangkan oleh seluruh kalangan baik pemerintah, individu maupun kelompok masyarakat. Tapi mari kita lihat, per hari ini (Selasa, 27/04/2020), setelah PSBB berjalan selama dua minggu; Sudah sampai mana jangkauan penyebaran Covid19 ini? Padahal, masih akan ada momen krusial yang harus kita lalui yaitu Hari Lebaran.

“Apakah kita akan melihat sajian pemetaan yang semakin mengerucut menjadi skala RW bahkan RT ? Yang tentu harus diartikan bahwa seluruh kelurahan di DKI telah terpapar secara merata ?”

Di awal pemberlakuan Social Distancing, dalam forum terbatas yang diinisiasi oleh Kedeputian 4/Kesbang Kemenpolhukam serta BanKesbangpol DKI yang dihadiri pula oleh beberapa unsur dari Kementerian/Lembaga dan ormas. Saya menyampaikan bahwa ‘ancaman gagal’ dari program Social Distancing bukan hanya karena faktor ekonomi tapi juga sosial-budaya.

Kegiatan interaksi warga di pemukiman (umumnya yang non-kompleks) apalagi di wilayah yang padat dapat dikatakan tidak terpengaruh dengan himbauan Social Distancing.
Gampangnya, kebiasaan warga masih tetap normal: nongkrong bareng!
Mungilnya rumah yang tidak berimbang dengan jumlah penghuninya juga turut melatari tradisi ini.

Lalu saya usulkan untuk melakukan aksi pencegahan yang berbasis kampung dengan pendekatan yang lunak. Yakni dengan membangun semacam pos-pos jaga di tiap titik akses strategis menuju kampung pemukiman warga. Tujuannya untuk mensterilkan kampung dengan cara memastikan (‘mencegat’) siapapun yang masuk sudah mesti ‘disterilkan’, minimal dengan hand sanitizer. Dan hal ini harus segera dicontohkan atau disebarluaskan agar dapat diikuti secara partisipatif oleh masyarakat.

Alhamdulillah, gagasan sederhana tersebut diterima karena mungkin sejalan dengan
pemikiran umum selain irit, mudah dilakukan, mudah dimodifikasi sesuai keadaan, juga mudah diakomodir baik sebagai aksi partisipatif maupun mobilisasi melalui kebijakan. Tidak hanya di perkotaan seperti Jakarta tapi mungkin juga di pedesaan.

Nah, kembali ke substansi: Lebaran. Di awal pemberlakuan PSBB, saya sampaikanlah dalam rapat yang digelar melalui video conference terkait momentum lebaran itu. Betapa di Jakarta akan terjadi peningkatan pergerakan warga dengan frekuensi, skala dan intensitas yang signifikan, berkaca pada tradisi silaturrahim di masyarakat (Jakarta) saat Lebaran yaitu ngiderin kampung, saweran buat anak-anak, dan semacamnya. Dan ini marak, terlepas dari sudah mudiknya sebagian warga.

Lagi-lagi, fokus saya adalah kampung/pemukiman (padat). Karenanya, perlu segera diformulasikan solusi praktis yang sifatnya segera mengingat minimnya waktu untuk persiapan atau pun pengkondisiannya (apabila ada solusi yang akan dijalankan) selama bulan puasa ini. Atau kita akan punya peta dalam skala RT setelahnya!

Ini memang kekhawatiran saya saja, tapi jika dapat diterima, lalu apa solusinya. Hingga kini toh belum terlihat ancang-ancang yang gamblang dari pemerintah menyikapi hal ini. Dapat dimengerti memang, mengingat pelaksanaan PSBB telah sangat menyita segenap sumber daya yang dimiliki pemerintah dan juga masyarakat. Khususnya menyangkut penanganan dampak PSBB terhadap daya tahan (hidup) masyarakat.

Saya sudah lontarkan ide ini secara internal kepada rekan-rekan di Kogas RI juga rekan-rekan di tim Gugus Tugas Covid19 Forum Bela Negara yang notabene ormas “plat merah” yang dibentuk oleh Kemhan RI, di mana saya menjadi Wakil Ketua di dalam tim tersebut. Apakah ide ini memadai ? Saya sendiri tak dapat menjawabnya.

Saat ini, kami sedang mempersiapkan aksi secara serentak di 100 titik di DKI. Waktunya sekitar H-3 Lebaran, tepatnya tanggal 19 Mei 2020, mulai jam 15.00 WIB (ba’da ashar) hingga selesai. Kegiatannya adalah penyemprotan di seluruh titik perkampungan yang sudah ditetapkan dibarengi pembagian hand sanitizer (maksimal @60 ml) khususnya kepada anak-anak dan lansia sebagai ‘bekal wajib selain masker’ untuk momen Lebaran.

Kami tidak ingin sendirian melakukan ini. Kami akan mengajak semua pihak agar dapat lebih banyak lagi jumlah titik yang mendapat ‘sentuhan’ dari aksi ini. Juga sinergi dengan mereka yang selama ini menjalankan program swadaya seperti pembagian sembako, makanan atau bentuk lainnya termasuk melakukan test diharapkan dapat bersinergi di titik-titik yang di situ dilakukan penyemprotan.

Kata kuncinya adalah, serentak dan merata. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengajak ormas, komunitas, kelompok atau individu terutama yang sudah lebih jauh di depan kami dalam hal aksi kontributif selama ini: Dengan penuh rasa hormat, mari kita satukan derap dan irama langkah kita!

Silakan tentukan titik-titik (penyemprotan) yang akan dijangkau masing-masing, dan beraksi secara serentak. Itu saja. Semoga berkenan dan membawa berkah, karena ini semata ikhtiar.#AKSI BELA NEGARA#KOGAS RI#BELA NEGARA. (*)

LEAVE A REPLY