Ilustrasi Rusunawa. Foto: Tribunnews.com

IDNEWS.CO.ID – Beberapa pemohon program Rumah Susun Simple Punya (Rusunami) DP 0 (0) Rupiah mengkritik mekanisme yang dipraktekkan Pemprov DKI. Karenanya untuk dapat jadi pemilik rusunami itu, langkahnya dirasakan sulit.

“Area unitnya belum jelas. Ane pun kurang mengerti apa sistem yang ane lakoni siang hari ini merupakan pendaftaran atau cuma sekadar pendaftaran penduduk yang tidak memiliki rumah tinggal di Jakarta,” papar pemohon bernama Dede Efendi, 28, di Klapa Vilage, Jakarta Timur, Selasa (13/8/2019) siang.

Dalam hari terakhir pendaftaran Rusunami DP 0 Rupiah yang digelar sejak waktu 08.00 WIB sampai 16.00 WIB, pemohon disasarkan petugas ketujuan tenda transit untuk ambil nomer antrean.

Dede beroleh nomer antrean 124 dari keseluruhan 170 pemohon sampai waktu 12.30 WIB. Pemohon setelah itu di panggil satu satu ketujuan lima meja petugas piket dalam ruangan pelayanan. “Lama sekali antreannya. Anak dan istri ane nunggu di mobil karena kepanasan. Ruang transitnya tidak ada pendingin udara, namun ada minuman teh dan kopi saja,” ujar masyarakat Ciganjur, Jakarta Selatan itu.

Pria yang saat ini berstatus sebagai Pemasok Jasa Yang lain Perseorangan (PJLP) pada Sub Pemadam Kebakaran (Damkar) Jakarta Pusat itu pun mengakui kesukaran saat mengelola surat keterangan belum terima pertolongan subsidi pemerintah sebagai syarat kepemilikan unit. “Pada awalnya ane urus di Dinas Perumahan Rakyat dan Area Permukiman Propinsi DKI Jakarta. Sepanjang hari disana karena loketnya penuh,” kata Dede.

Buat beroleh syarat itu, Dede sebelumnya harus menyatukan berkas berwujud foto kopi kartu keluarga, KTP, selanjutnya surat pengantar RT/RW. “Tidak ada pemberitahuan petugas, bila ternyata urus surat keterangan itu dapat diolah di kelurahan,” katanya.

Pemohon yang lain, Toni, 34, mengatakan, petugas pelayanan Klapa Vilage setelah itu menanyakan tentang persyaratan yang dipunyai pemohon melalui sistem wawancara. “Ane ditanya tentang besaran gaji, pengeluaran berapakah setiap bulan, banyaknya keluarga berapakah orang, pengin hunian tipenya apa, dan yang lain,” katanya.

Selesai didata, katanya, petugas setelah itu meminta Toni menanti pemberitahuan selanjutnya dalam saat enam bulan ke depan melalui e mail. “Kita disuruh nantikan melalui e mail selama enam bulan ke depan. Bila diemail oleh mereka, karena itu ane disuruh turut proses kelanjutan,” tandas ia.

Toni menambahkan, petugas layanan pun tidak memberi tahu waktu area unit yang ditawarkan. “Ane tidak tahu unitnya yang mana. Tempatnya pun belum semestinya di sini (Klapa Vilage),” pungkas ia.(fat)

LEAVE A REPLY